DIVERGENT

DIVERGENT

Directed By Neil Burger
Music By Junkie XL
Writer by Evan Daugherty, Vanesa Taylor, Veronica Roth

CAST
Shailene Woodley
Theo James
Ashley Judd
Kate Winslet
Zoe Kravitz

VTS_03_1.VOB_000044248
VTS_03_1.VOB_001300336

Wah, akhirnya kesampaian juga untuk menulis review dari film yang ditonton. Selama ini hanya penikmat film dalam diam (ha ha ha). Film yang mau aku review untuk pertama kalinya adalah ‘DIVERGENT’.

Film ini kurang lebih berlatar belakang sama dengan film ‘Hunger Games’, namun jika ditelusuri lebih dalam lagi ‘Hunger Games’ masih jauh lebih baik dari segi pengangkatan tema dimana masyarakat sebagai korban perang. Maaf ya kalau ujung-ujungnya jadi membandingkan kedua film ini. Bukan apa-apa, selain tema yang diangkat hampir serupa mengenai masyarakat pasca perang, tokoh utama dalam kedua cerita ini juga sama yakni perempuan. Di ‘Divergent’yang mengambil latar Chicago di jaman distopia, pahlawan wanita kita bernama Beatrice Prior (Shailene Woodley). Beatrice merupakan anak dari faksi Abnogation.
Faksi Abnogation merupakan faksi yang terkenal karena tidak mementingkan diri sendiri, mengutamakan orang lain, pelayan masyarakat, bahkan menampung non faksi (orang-orang yang tidak bisa masuk ke dalam salah satu faksi). Faksi Abnogation dipercaya sebagai pelaksana system pemerintahan.
Selain faksi Abnogation, ada alagi empat faksi lainnya. Faksi Erudite, yakni faksi yang mengetahui segalanya, mereka menghargai pengetahuan dan logika. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan dalam penelitian. Faksi Aminity merupakan faksi yang berisi para pengolah lahan, faksi ini satu-satunya faksi yang selalu terlihat harmonis dan bahagia. Sistem pengadilan di Chicago dipegang oleh faksi Candor. Faksi Candor menghargai kejujuran dan ketertiban. Mereka mengatakan kejujuran bahkan saat kau tak menginginkannya. Faksi terkahir adalah Faksi Dauntless. Faksi penjaga keamanan di Chicago. Orang-orang dalam faksi ini digambarkan sebagai orang-orang yang bebas, tidak takut pada apa pun, gila dan nekat. Sebuah karakter impian semua orang. Faksi Dauntless juga merupakan faksi yang berada di garda terdepan jika terjadi serangan dari luar.

VTS_03_1.VOB_000202673

VTS_03_1.VOB_000423226

VTS_03_1.VOB_001387323

VTS_03_1.VOB_001442912

Setiap remaja yang sudah beranjak dewasa di Chicago diwajibkan untuk memilih faksi yang akan mereka masuki dan jalani di sisa hidup mereka. Hal ini serupa dengan aturan dari Capitol di ‘Hunger Games’ yang memaksa remaja cukup umur untuk memasukkan nama mereka dalam botol undian untuk kemudian dipilih sebagai peserta ‘Hunger Games’. Di ‘Divergent’, remaja yang sudah memilih tergabung dalam faksi tertentu harus melupakan keluarganya. Faction before blood.

Pemilihan faksi ini melalui beberapa tes, sayangnya keseluruhan bentuk tes tidak diperlihatkan. Hanya tahap awal saja yang diperlihatkan. Tahap pertama dimana para peserta diberi semacam serum halusinasi yang nantinya akan menunjukkan tipe faksi yang cocok untuknya. Beatrice masuk ke salah satu ruangan yang diisi oleh seorang perempuan asia bertato. Beatrice diberikan ramuan serum halusinasi. Dalam halusinasinya, Beatrice menemukan dirinya dalam ruangan kosong,berdinding kaca sehingga ada banyangan dirinya di segala penjuru. Adegan selanjutnya adalah kemunculan anjing besar kemudian anjing tersebut berubah menjadi anjing yang lucu saat Beatrice memalingkan wajah. Di akhir tes, si pemandu terkejut melihat halusinasi Beatrice dari layar monitor dan menyuruhnya absen dari tes selanjutnya (yang menyebabkan adegannya ga ada). Ternyata Beatrice termasuk dalam golongan ‘DIVERGENT’. Golongan yang tidak bisa memilih satu faksi untuk didalaminya karena ia termasuk dalam seluruh faksi.

Divergent memiliki cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan. Mereka bukan orang yang bisa diperintah begitu saja. Pemikiran mereka yang berbeda terhadap sesuatu membuat mereka dianggap berbahaya. Tapi hingga akhir film, seberbahaya apa divergent ini tidak begitu terlihat karena Beatrice pun terlihat fine-fine saja, begitu pula dengan masyarakatnya. Tidak ada sejarah yang membuktikan bahwa divergent itu berbahaya. Kelemahan pertama yang begitu terlihat dalam film ini.
Selanjutnya, muncul adegan keluarga Prior yang sedang makan malam. Ayah dan ibu Beatrice serta saudara laki-lakinya tampak nerveous menantikan keputusan keesokkan harinya mengenai tes pemilihan faksi.

“Tomorrow when we choose, you have to think family but you also have to think about yourself” pesan saudara laki-lakinya Beatrice.

Keesokan harinya, Saudara laki-laki Beatrice memilih bergabung dengan faksi Erudite sedangkan Beatrice (setelah adegan penuh pertimbangan yan gmembuat berdebar-debar) memilih bergabung dengan Dauntless. Petualangan Beatrice di dunia Dauntless pun dimulai.

Selama bergabung dengan Dauntless, Beatrice yang berganti nama menjadi Tris berkenalan dengan Christina yang sebelumnya di Faksi Candor, Al (mantan erudite), Will (mantan Amity), pimpinan Dauntless, Erick dan Four (wakil pempinan Dauntless yang ternyata juga Divergent). Ternyata di tubuh Dauntless sendiri juga ada tes untuk anak baru. Yah, kalo jaman sekolah dikenal dengan Ospek atau Mos (masa orientasi siswa).

VTS_03_1.VOB_001619989

Sayangnya adegan pengalgojoan di Dauntless tak seseram dan serupa dengan adegan di militer pada umumnya. Adegan disini terkesan sangat lembek. Entah, mungkin karena yang banyak disorot adalah Tris yang notabene belum pernah menggunakan tenaganya untuk latihan fisik semacam di militer. Ah, satu lagi. Meskipun ini adalah Dauntless, hampir semuanya terlihat berkulit mulus dan bersih. I don’t know.

Adegan Mos kita lewatkan saja, konflik mulai muncul saat Jenni (Kate Winslet) muncul sebagai orang yang sangat ingin memusnahkan Divergent. Sumpah, awalnya ga ngeh kalo itu Kate Winslet. Pangling euy he he.
Jenni merupakan pempinan dari faksi Erudite. Ia digambarkan sebagai sosok yang haus akan kekuasaan. Ia inggin menyingkirkan faksi Abnogation yang dianggap tidak becus mengurus Chicago. Selain itu, Jenni juga berpandangan bahwa Abnogation sama pentingnya dengan Divergent untuk dimusnahkan. Singkatnya seperti halnya di film-film patriotik bikinan Hollywood ataupun bikinan lainnya, kejahatan selalu terkalahkan. Tokoh yang ambisius selalu terkalahkan oleh keambisisusannya sendiri (Alah opo toh?).
VTS_03_1.VOB_000982752

Secara keseluruhan, ‘Divergent’ memang layak untuk menjadi tontonan favorit mengingat novelnya pun merupakan best seller saat ini. Bagi anda penggemar film saduran dari novel mungkin akan sedikit kecewa dengan penggambaran setiap adegan yang terkesan dipotong-potong dari novelnya. Hal ini serupa dengan film ‘Hunger Games’. Hanya saja, adegan di Hunger Games lebih tertata apik sehingga penonton yang belum membaca novelnya pun mengerti alur dan apa sebab musabab di setiap adegan. Penderitaan masyarakat pasca perang pun digambarkan dengan apik di Hunger Games. Tidak demikian dengan ‘Divergent’, dimana masyarakat pasca perang tidak terlihat begitu menderita, kecuali untuk non faksi. Mungkin karena sang sutradara lebih memfokuskan kamera pada sosok Tris yang masih linglung kemana ia harus membawa dirinya. Pilihhan apa yang harus diambilnya, Apakah pilihan itu yang terbaik, dan lain-lainnya. Bahasa gaulnya, menyorot kegalauan Tris tentang status divergent-nya.

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s