“TROUBLE MAKER vs BEAST IS THE B2ST”

Woonie, seorang manusia biasa sedang membereskan peralatan makannya. Malam ini orang tuanya sedang bertugas di luar kota, ia sendirian dirumah. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh di halaman belakang. Woonie dengan rasa penasaran dan dengan memberanikan diri keluar. Sesuatu yang bercahaya kehijauan terlihat di dekat kandang ayam milik ayahnya.

45339_450749491664800_975467927_n

Woonie : apa itu? (sambil berjalan mendekati sumber cahaya)

Semakin dekat dengan “sesuatu” itu, Woonie lantas berteriak : AAAAAAAAAA

Seseorang dengan jubah berwarna hijau berdiri, tubuhnya lebih pendek dari Woonie. Wajahnya kecil dan memiliki mata yang bersinar indah.

“Kau siapa?” tanya Woonie, makhluk itu terlihat kebingungan. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, depan, belakang, atas, dan bawah. Lalu menatap woonie.

“Aku sedang belajar sihir di kamarku, aku kira akan bisa berdissaperate ke Cuberium School. Tapi ini dimana?” makhluk asing itu tampak kebingungan. Woonie lebih bingung lagi.

“Cuberium School? Apa itu?” tanyanya.

“Kau tidak tahu?” kening makhluk asing itu berkerut. “ Aneh sekali, seluruh negeri tahu tentang sekolah itu, tapi kau tidak tahu. Itu adalah sekolah sihir yang paling diincar oleh seluruh negeri ini.” Jelas makhluk asing itu.

“Sekolah sihir? Oh, apa itu semacam cerita di Harry Potter? Aku sangat menyukai cerita itu. Wah, jadi sekarang ada cerita sekolah sihir yang baru ya? Bagaimana ceritanya? Bisakah kau menceritakannya padaku? “ Woonie sangat antusias mendengar penjelasan dari makhluk asing itu.

“Oh ya, siapa namamu?”

“Ace Weasley.”

“Wah, namamu mirip dengan Ron Weasley. Kau benar-benar penggemar cerita itu ternyata. Aku Woonie, ayo masuk. Kebetulan orang tuaku tidak ada di rumah. Wah, aku senang ada teman yang berkunjung.” Ace yang masih belum sepenuhnya sadar hanya mengikut saja ketika Woonie menarik tangannya.

Di sudut perkampungan kecil Hogsmead, seorang anak dengan potongan rambut menyerupai baskom memainkan sebuah tongkat yang ia temukan di hutan larangan saat sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya. Awalnya ketika ia menemukan tongkat kecil itu dan menunjukkannya pada teman-temannya, semua teman-temannya ketakutan dan melarikan diri darinya tanpa ada alasan yang jelas. Dalam dunia sihir, menemukan sesuatu yang bukan milik kita akan mengundang malapetaka bagi penemunya. Tapi anak itu tidak percaya. Ia menggosok ujung tongkat dengan cincin berbatu hitam peninggalan orang tuanya. Tiba-tiba sesuatu mengepul dari ujung tongkat itu disertai dengan kilatan cahaya hijau dan kuning yang terlihat seperti halilintar. Anak itu terkejut, hampir saja ia membuang tongkat itu. Dua orang kini berdiri di depannya.

“Lho? Dimana ini? Bukankah tadi aku ingin mengajakmu masuk ke rumahku, kenapa kita bisa sampai kesini? Tempat seperti apa ini?” seorang pria dengan pakaian piyama kuning berbunga-bunga tampak bingung namun temannya tidak. Teman yang ia gandeng justru terlihat senang.

“Wah, aku kembali!! Ini dunia sihir. Lihat! Itu Cuberium School!” serunya. Mereka ternyata Woonie dan Ace Weasley.

“Dunia sihir?” Woonie tampak terkesima dan tidak percaya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Matanya berhenti pada sesosok mungil berambut menyerupai baskom.

“Hei, siapa dia?” Woonie menyenggol lengan Ace. Ace mengamati anak di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian matanya tertuju pada apa yang dipegang oleh anak itu.

“Hey, itu tongkat sihirku. Kenapa ada di tanganmu?” Ace hendak merebut tongkat itu. Si anak berambut menyerupai baskom menghindar.

“Aku menemukannya di hutan larangan.” Serunya.

“Wah, aku pasti melakukan kesalahan lagi. Aku ingin berdissaparate ke Cuberium School malah terbuang ke dunia manusia biasa. Dan tongkatku malah muncul di hutan larangan. Hiks, sepertinya aku memang tidak punya garis tangan untuk menjadi seorang penyihir yang hebat.” Ace tampak sedih. Anak berambut menyerupai baskom merasa kasihan. Ia lantas menyerahkan tongkat ditangannya pada Ace.

“Kau mau mengembalikan tongkat ini padaku?” tanya Ace tidak percaya. Si anak mengangguk.

“Siapa namamu?” tanya Ace lagi.

“Yang Yoseop.” Jawab anak itu singkat.

“Dalam bahasa korea, Yo artinya cahaya, sedangkan Seop artinya api. Wah, namamu bagus sekali.” Timpal Woonie. Ace dan Yoseop memasang wajah tidak mengerti.

“Berapa usiamu? Kau sangat cute.” Tanya Woonie lagi.

“22 tahun.”

“Apa??” Ace dan Woonie serentak berseru tidak percaya.

“Kau seumuran denganku. Tapi kau lebih pendek dan gendut dariku.” Seru Ace.

“Kau lebih tua dariku, tapi wajahmu jauh lebih terlihat muda. Bisakah kau membuat aeygo untukku?” seru Woonie.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit. “ Sepertinya mau hujan. Ayo kita cari tempat berteduh.” Usul Ace. Kedua teman barunya setuju. Saat Ace hendak mengambil tongkat yang disodorkan Yoseop. Sesuatu yang panas membakar telapak tangannya.

“Auw!! Panas sekali!” serunya kesakitan. Hujan mulai turun.

“Apa yang kau rencanakan? Kau ingin mencelakaiku?” serunya terkejut.

“Aku tidak merencanakan apa-apa.” Jawab Yosep heran. Di tangannya tongkat itu sama sekali tidak terasa panas. Hujan mulai turun dengan deras.

“Kita berteduh dulu! Nanti kita selesaikan masalah kalian.” Teriak Woonie diantara suara hujan. Mereka sepakat.

Di kedai terlaris di Cuberium distrik milik Joker, The Three Broomsticks, Yoseop memesan butterbeer dan jus labu, Ace memesan teh herbal hangat, Woonie mengikuti Ace karena ia baru pertama kali melihat minuman yang lainnya. Cari aman.

“Sekarang coba kau jelaskan, ada apa dengan tongkat sihirku?” Ace menatap tajam pada Yoseop. Si penyihir dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak itu tidak menghiraukannya, ia justru asyik dengan hidangnnya.

“Ya! Kau dengar apa yang kukatakan?”

“Aku sangat lapar. Biarkan aku makan dulu.” Pinta Yoseob dengan wajah yang memelas. Woonie berempati.

“Biarkan ia makan dulu. Sepertinya ia sudah beberapa hari tidak makan.” Bujuk Woonie pada Ace. Ace melihat mimik wajah Yoseop. Ia juga iba melihat wajah cute itu menahan lapar.

“Ya sudah, kau boleh makan.”

“Hoprayy!” Yoseop bersorak.

Woonie tampak penasaran dengan teriakan Yoseop. Ia memandang Ace. “Itu cara para penyihir mengungkapkan perasaan senang mereka.” Jelas Ace. Woonie mengangguk-anguk.

“Hoprayy!!” serunya ikut-ikutan.

Ace mengeluarkan beberapa keping Galeon untuk membayar makanan dan minuman mereka semua karena Woonie tentunya tidak memiliki uang duinia sihir, sedangkan Yoseop? Lihat saja penampilannya. Tidak meyakinkan.

“Sekarang ceritakan.” Kata Ace.

“Aku tidak tahu.” Jawab Yoseob.

“Apa ?”

“Aku tidak tahu. Ditanganku, tongkat ini tidak terasa aneh.” Kening Ace berkerut. Woonie pun terlihat berpikir keras.

“Oh ya, aku baru ingat, beberapa hari yang lalu aku mendengar seseorang berlatih sihir. Jadi aku menggunakan kalimat itu saat menggosok ujung tongkat ini.”

“Mantera apa yang kau gunakan?” pemilik Kedai, Joker tiba-tiba ada diantara mereka.

Yoseop tampak bingung, “ itu.. pertama lumos, kemudian Lacarnum Inflamarae setelah itu Carpe Retractum. Apa ada masalah?” tanya Yoseop dengan wajah tanpa dosa.

“Aku ingat, di buku yang pernah aku baca, Lumos artinya menciptakan cahaya melalui tongkat sihir. Apakah ketika itu muncul cahaya di ujung tongkat Ace?” tanya Woonie. Yoseop mengangguk.

“Lacarnum Inflamarae berarti menciptakan api dari tongkat.” Woonie meminta penegasan melalui mimik wajahnya. Yoseop mengangguk, “ya, saat itu ada api yang keluar. Aku sangat terkejut.”

“Dan yang terakhir, Carpe Retractum, menarik sesuatu kearah si pelafaz mantra. Dengan apa kau menggosok ujung tongkat itu?” Tanya Joker dengan penuh selidik. Yoseop mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Joker mengambilnya dan mengamati benda yang dikeluarkan Yoseop. “I..ini… Ini batu bertuah? Tidak mungkin kau memilikinya. Batu ini sudah lama menghilang dan kabarnya sudah dihancurkan. Kenapa ada ditanganmu?” Joker tampak ketakutan.

“Ibuku yang memberikannya sebelum beliau meninggal.” Jawab Yoseop.

“Batu itu berarti memanggil sesuatu yang sudah tidak mungkin kembali. Kau menggunakan mantera menarik sesuatu ke arahmu dan menggosokkan batu itu.” Joker menoleh pada Ace.

“Seharusnya kau tidak bisa kembali lagi. Apalagi tongkatmu sudah lepas dari tanganmu saat kau menggunakannya. Anak ini yang membuatmu bisa kembali ke dunia sihir.” Ace Pucat. Joker menoleh lagi pada Yoseop.

“Kau dalam bahaya, para penyihir sudah menganggap batu itu sudah dihancurkan. Kini pasti banyak penyihir yang mengincar cincin dan tongkat itu. Apalagi penyihir JS.” Joker memasang wajah menakutkan. Ace pucat.

“Bukankah JS sudah mati?”

“Tidak seluruh jiwanya, dia adalah Trouble maker yang akan selalu ada jika apa yang ia pernah incar masih ada di dunia ini. Dulu ia sangat menginginkan batu bertuah yang sekarang ada di cincinmu itu. Kini setelah kau menggunakannya, tentu makhluk itu merasakan kehadiran batu itu kembali. Dia akan segera mencarimu.”

Suara halilintar menambah ketakutan di dalam kedai yang sepi itu.

“Apakah itu artinya, Yoseop dalam bahaya besar?” tanya Woonie.

“Bukan hanya anak ini, tapi juga kalian berdua. Karena kalian yang dipanggil oleh mantera itu.” Ujar Joker.

“Bagaimana aku bisa terlibat dalam kekacauan ini?” tanya Woonie tidak terima.

“Karena kau ada disini saat anak ini (menunjuk tepat di depan hidung Ace) dipanggil. Kalian berdissaparate bersama karena mantera itu. Kau menyentuhnya (menunjuk tepat di hidung Ace). Kau berdissaparate bersamanya. Kehadiran kalian bertiga telah dirasan oleh JS.”

“Sebentar, apakah itu berarti kami harus melarikan diri dari JS seperti di film Harry Potter di novel terakhir JK. Rowling? Wow, itu menyenangkan!” Seru Woonie.

Tiba-tiba Joker menyuruh semuanya diam. Ia menajamkan pendengarannya. Suasana benar-benar hening, hanya suara hujan dan gemuruh diluar sana yang terdengar. Namun Joker mendengar sesuatu yang lain.

“Dia mulai terjaga, dia merasakan kehadiran kalian. Sebaiknya kalian pergi jauh-jauh dari tempat ini. Kebangkitannya adalah bencana bagi penyihir lainnya.”

“Dia bangkit? Maksudmu, dia bangkit dari tidur?” tanya Yoseop.

“Yah, dia bangkit dari tidur panjang. Dia bangkit dari Hibernasi. Sang Trouble maker telah bangkit dari tidup panjang. Cepatlah kalian melarikan diri. Jangan biarkan ia mendapatkan cincin dan tongkat itu.”

Doojoondoor mendengarkan cerita Joker dengan seksama. “ Jadi anak itu telah membangkitkan sang Trouble Maker.” Gumamnya dengan penuh keprihatinan.

“Sepertinya sekarang aku harus mulai bekerja keras lagi. Masa-masa bersantai di dorm sudah berakhir. Cuberium School untuk sementara kau yang mengendalikannya, aku harus melakukan sesuatu untuk melindungi Yoseop, Woonie dan Ace. Ah, kasihan sekali Ace, ia tidak pernah berhasil dalam menggunakan mantera sihir. Aku rasa Woonie dan Yoseop bisa melindunginya.” Celetuk Doojoondoor.

“Hm, maaf leader.”

“Disini aku kepala sekolah,”

“Oh iya, maaf pak kepala sekolah. Sepertinya yang harus dilindungi itu Yoseop. Mereka, Woonie dan Ace harus melindungi Yoseop. Bukan sebaliknya.” Ralat Joker.

“Tidak! aku yang akan melindungi Yoseop. Terlalu berbahaya bagi Woonie dan Ace untuk melindungi anak itu. Dia anak yang hiperaktif. Mereka akan kesulitan.” Ujar Doojoondoor. Joker mengangguk-angguk.

“Lantas apa yang pertama kali akan kau lakukan jika bertemu dengan Yoseop? Apa kau akan memberinya jubah gaib agar JS tidak bisa menemukan mereka?” tanya Joker. Doojoondoor menatap mata Joker dengan serius.

“Pertama yang aku lakukan jika bertemu dengan anak itu adalah…….. memotong rambut baskom Yoseop dulu. Potongannya itu terlalu menarik perhatian, banyak fans dan antifans yang menaruh perhatian pada potongan itu.”

Woonie melihat jam di pergelangan tangannya. “Apakah itu yang disebut jam tangan?” tanya Yoseop. Woonie mengangguk, “wow, ternyata dunia kalian benar-benar hebat. Aku kira manusia biasa tidak akan mampu bertahan hidup tanpa manusia sihir.” Woonie melihat ada binar yang penuh dengan kekaguman di wajah yoseop. Seraya melepaskan jam tangan itu dan memberikannya pada anak itu.

“Untukmu saja. Aku punya banyak di rumah.” Ace yang melihat itu terlihat tidak senang. “Itu kalau kau bisa kembali ke duniamu. Apa kalian tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pemilik kedai tadi? Kita dalam bahaya.” Seru Ace panik.

“Lalu?” celetuk Yoseop dan Woonie.

“Kenapa kalia masih bisa santai begini? Kita harus segera melarikan diri. Jika tidak sang trouble maker akan dapat menangkap kita. terutama kau!” Ace menunjuk Yoseop. Yoseop memainkan jam tangan barunya. Seraya lantas menatap Ace. “Lalu kita harus lari kemana?” wajahnya tanpa dosa. Ace terdiam, “aku juga tidak tahu.” Jawabnya. “Woonie, menurutmu bagaimana?” Yoseop menoleh pada Woonie. Tapi orang yang dimaksud sama sekali tidak terlihat. “Kemana dia pergi?” tanyanya pada Ace. Ace menunjuk ke belakang punggung Yoseop dengan wajah pucat. Yoseop lantas menoleh.

Dihadapan mereka kini telah berdiri seorang pria dengan jubah hitam berkerah tegak seperti jubah para draculla di film-film hollywood. Wajah pria itu sangat pucat. Hanya bibirnya yang merah yang mengindikasikan bahwa ia adalah makhluk hidup. Didekapannya Woonie yang telah disihir pingsan. “Woonie!!” teriak Ace.

Yoseop berjalan mendekati pria berjubah. “Kau siapa? Kenapa Woonie tidur didekapanmu?” tanyanya heran. Pria berjubah menyeringai, lengan kirinya hendak menjangkau Yoseop. Yoseop merasa seseorang menarik tubuhnya kebelakang, “dia sang Trouble Maker! Cepat lari!!” Seru Ace sambil menarik tubuh Yoseop.

“Apa? Tapi Woonie…” kata-kata yoseop belum selesai ketika kilatan cahaya melintas di depan mereka. Cahaya tersebut membentuk sesuatu yang terlihat seperti Black Hole. Ace dan Yoseop berhenti dan berusaha menahan agar tubuh mereka tidak tertarik kedalam black hole tersebut. “Apa itu?” tanya Yoseop pada Ace.

“Itu beast hole. Apa kau tidak pernah membaca tentang legenda beast hole?” Ace berteriak berusaha mengalahkan suara angin. Yoseop menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebenarnya kau dari dunia apa? Kenapa banyak hal yang tidak kau tahu tentang dunia kita? beast hole itu akan menyeretmu ke dunia lain. Jika beruntung kau akan tetap menjadi manusia tapi kebanyakan dari bangsa kita akan berubah menjadi binatang. “ Ace menjelaskan apa yang ia ketahui. Yoseop tercengang, “aku kira kau bodoh. Ternyata kau tidak sebodoh tampangmu itu.” Celetuknya. Ace tersenyum. “Biarpun aku tidak menganggapmu sebagai teman, tapi karena saat ini kita berada di jalur yang sama, mau tidak mau aku harus membantumu.” Kata Ace. Angin semakin kencang, Yoseop nyaris terbang dan tertarik ke dalam beast hole. Ace berusaha menahannya. Mereka berpelukan, saling mellindungi. Tiba-tiba hening. Tak ada satu suara pun kecuali suara desahan nafas Ace dan Yoseop. Keduanya membuka mata dan mulai melepaskan dekapan masing-masing.

“Apa ini?” Seru Ace. Mereka kini terkurung dalam suatu bentuk perlindunan yang aneh. Mereka berada dalam kubah kaca. Diluar sana terlihat seseorang ayng bertubuh kekar dan tinggi sedang mencoba berunding dengan sang Trouble maker. Tiba-tiba sang trouble maker tertawa. Saking keransnya, didning kubah bergetar. Tak lama kemudian terjadi perang sihir antara keduanya. Woonie yang semula disandera oleh Sang Trouble Maker kini tergantung di pohon Akasia.

“Siapa itu?” bisik Yoseop. Ace menghela nafas, “Doojoondoore, kepala sekolah Cuberium school. Ternyata kau benar-benar tidak tahu apa-apa.”

“Apakah dia akan menyelamatkan kita?” tanya Yoseop lagi.

“Menurutmu, siapa yan membuat kubah ini?” Ace balik bertanya.

“Bukan aku.” Timpal Yoseop.

“Aku percaya 100% kalau itu bukan kau, lalu menurutmu siapa?” Yoseop berfikir.

“Dia?” Seraya menunjuk Doojoondore. “Sepertinya begitu.”

Tiba-tiba kaca kubah retak dan pecah. Baik Yoseop dan Ace sama-sama berusaha untuk tidak terkena pecahan itu.

“Ayo kita selamatkan Woonie.” Seru Yoseop.

“Apa kau tidak lihat keadaan sekarang masih berbahaya?” Cegah Ace.

“Tapi Woonie kasihan.” Tanpa menunggu jawaban Ace, Yoseop berlari diantara pecahan kaca. Ace melihat kaki bocah itu sama sekali tidak menggunakan alas kaki. Ia lantas melepaskan jubah lusuhnya, membaginya menjadi dua dan membungkus kaki Yoseop.

“Hati-hati dengan pecahan kaca.” Ace lantas memanjat pohon untuk menurunkan Woonie. “Ya! Kau tangkap ya!” teriaknya dari atas pohon. Yoseop yang masih terkejut dengan sikap gentlemen Ace segera mengangguk dan bersiap hendak menangkap tubuh Woonie.

“1,2,3`”

“Ouch!!” Woonie terbangun. Kepalanya terasa sangat sakit.

“Akhirnya kau bangun, kau hampir saja dijadikan sandera oleh Trouble maker.” Seru Ace dari atas pohon. Ia segera turun. Wooni emasih merasa pusing.

“Oh ya? Siapa itu yang bertempur dengan Trouble Maker?” tanya Woonie.

“Doojoondore. Kepala sekolah Cuberium School, penyihir paling disegani di dunia kami.” Ace berdiri tepat di depan Woonie yang masih duduk.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Katanya.

“Bukan aku tapi Yoseop.” Sanggah Ace.

“Lalu dimana dia?” tanya Woonie.

“A..aku disini. Bisakah kau cepat berdiri?” ternyata Woonie terjatuh diatas tubuh Yoseop.

“Oh, maafkan aku.” Woonie segera berdiri.

“Berikan tongkat sihir dan cincin itu!!”

Semua menoleh pada suara yang menyeramkan itu. Kini Doojoondore telah bergabung dengan Ace, Yoseop, dan Woonie.

“Kalian baik-baik saja?” ia bertanya pada semuanya namun matanya tak lepas dari sosok Yoseop. Semua mengangguk. “Dengarkan kata-kataku, Touble Maker sepertinya sudah menggunakan kekuatan terakhirnya. Kalian lihat Beast hole itu? Itu adalah pintu untuk…”

“Ace sudah memberitahu kami tentang itu.” Timpal Yoseop.

“Oh ya? Kalau begitu sekarang kita harus lebih berhati-hati. Sepertinya dia sedang memanggil temannya.” Doojoondore bersiaga. Trouble Maker sedang berdiri dengan penuh konsentrasi.

“Memangnya dia punya teman?” tanya Woonie.

“Seharusnya tidak. tapi sepertinya sekarang ia telah memiliki pengikut.” Jawab Doojoondore.

“Siapa?”tanya Ace.

“Mana aku tahu! Kalian banyak tanya!” bentak Doojoondore.

Wajah Doojoondore terlihat bercahaya penuh harapan saat Joker tiba-tiba datang. “Kau datang! Cepat kesini, sepertinya dia sedang memanggil pengikutnya.

“Aku adalah pengikutnya.” Wajah Joker terlihat sanagt pucat dan dingin. Doojoondore terkejut dan Shock. Orang kepercayaannya kini telah mengkhianatinya.

“Ha ha ha. Doojoondore! Aku sudah katakan sebelumnya, berikan bocah pemilik tongkat dan sihir itu, setelah itu kalian akan terkejut dengan apa yang akan kalian alami. Kalian tahu? Tongkat dan cincin itu adalah kunci pengikat antara aku dan kalian.” Seru Trouble Maker.

“Saya juga bos.” Celetuk Joker.

“Yah, kau juga. Kalian semua tidak akan menyesal jika menyerahkan apa yang aku minta. Karena yang kalian dapatkan nanti adalah takdir kalian yang sebenarnya. Tongkat dan cincin itu adalah penghubung antara kita dan masa depan yang sebenarnya.” Kata Trouble Maker.

“Masa depan yang sebenarnya? Siapa kau sebenarnya?” Doojoondore berusaha melindungi Ace, Yoseop dan Woonie.

“Kau akan tahu jika kau melakukan apa yang aku katakan tadi.” Jawab Trouble Maker. Joker mendekat diam-diam, Yoseop melihat pergerakannya. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya.

“Jangan keluarkan tongkat itu!” seru Doojoondore.

Bukankah ini tongkat sihir? Aku akan melindungi kalian dengan ini!” kata Yoseop. Ace terkejut. “Apa kau gila? Kau bahkan belum bisa mengendalikannya.”

Yoseop berlari kearah Joker. “Kau pembohong! Ku kira kau teman yang ingin menyelamatkanku dari penyihir jahat itu!” teriak Yoseop. Matanya merah. Segera bersiap, “aku tidak pernah berusaha membantu kalian. Ini pelajaran buatmu anak muda. Kau terlalu mudah percaya pada orang yang kau kenal. Apa kau pikir mereka benar-benar temanmu? Mereka bukan melindungimu, tapi melindungi cincin dan tongkat sihir itu!”

“Yoseop! Kembali kesini!” teriak Woonie, Yoseop menoleh.

“Kau lihat? Mereka tidak berani mendekati area kita berdua, mereka hanya menyuruhmu untuk kembali. Kenapa? Karena mereka takut mati hanya karena menyelamatkan bocah yang tadinya bukan siapa-siapa sepertimu.” Ucap Joler tajam.

Doojoondore mulai bertempur lagi dengan Trouble Maker. Kini Woonie dan Ace sama sekali tidak ada yang melindungi. Mereka bisa saja terkena mantera nyasar. Ia hendak kembali.

“Kau akan kesana? Mereka tentu akan sangat senang karena bisa dekat dengan dua sumber kekuatan itu. Kau tahu?mereka yang mengkhianatimu.” Kata-kata Joker terngiang-ngiang dalam benak Yoseop.

“Sial!” tiba-tiba Ace mengambil kerikil dan melemparkannya pada Yoseop. Anak itu tersadar. Kini Ace dan Woonie telah berdiri disampingnya. “Untuk saat ini terserah kau menganggap kami apa, tapi berikan lima menit. Maka kau akan tahu bahwa aku benar-benar ingin melindungimu.” Kata Ace.

Woonie mengangguk.”Kenapa? karena tongkat dan cincin ini” tanya Yoseop.

“Ya, dan karena kau, aku bisa kembali ke duniaku.” Kata Ace.

“Dan karena kau, aku masih punya harapan untuk kembali ke duniaku.” Timpal Woonie.

“Argh!!”

Semua menoleh pada sumber suara. Doojoondore dalam bahaya. Joker melemparkan serangan, Yoseop menangkisnya. “Cepat pergi! Kalian tidak bisa sihir! Ini sangat berbahaya,” seru Yoseop. Ace tidak menggubris Yoseop. Ia mengambil kerikil dan melemparkannya pada Trouble Maker.

“Bodoh!” seru Yoseop, ia lantas menyeret Woonie mendekati Ace sambil menahan serangan Joker. Tak lama kemudian Ace, Yoseop dan Woonie telah berada dekat Doojoondore. Ace dan Woonie berusaha merusak konsentrasi Trouble Maker dengan lemparan kerikilnya. Yoseop mencoba melumpuhkan senjata Joker, sementara tangannya memegang bahu Doojoondore yang sudah mulai melemah. Tiba-tiba dari tongkat Yoseop muncul cahaya kuning dan bertemu dengan cahaya dari tongkat Joker seperti halnya tongkat Doojoondore dan Trouble Maker. Keempat penyihir itu tampak kelelahan karena kekuatan mereka sama-sama terforsir. Woonie lantas berusaha menahan tubuh Yoseop sedangkan tubuh Doojoondore ditahan oleh Ace. Berkumpulnya kekuatan dahsyat disekeliling arena pertempuran itu membuat Beast Hole semakin besar dan semakin memiliki daya tarik yang kuat. Dan hanya beberapa detik kemudian, keenam pria itu tersedot kedalamnya dan suasana kembali hening.

“Dimana ini?” terdengar sebuah suara. Itu suara Yoseop.

“Inilah masa depan yang nyata yang aku katakan sebelumnya. Inilah dunia nyata kita.” terdengar suara yang lain. Suara yang tidak asing lagi. Suara sang Troble Maker.

Doojoon bangun dan mengamati sekelingnya. Begitu juga dengan Joker, Ace, dan Woonie. “Apa maksudmu? “tanyanya pada Trouble Maker. Yang ditanya terdiam cukup lama lalu katanya, “ dengarkan suara itu.” Bisiknya.

Semua orang dalam ruangan itu menajamkan pendengaran masing-masing.

“Beast is the B2ST! Beast is the B2ST!” suara teriakan itu seperti gemuruh.

“Apa itu? Siapa yang mereka teriakan?” tanya Woonie.

“Kita, yang diteriakan mereka adalah kita. nama kita. Beast is the B2ST. Inilah takdir yang berusaha aku kembalika. Inilah dunia kita, bukan dunia sihir. Biarkan dunia sihir dikuasai oleh Harry Potter dan teman-temannya. Tapi disini, dunia Beast is the B2ST.”

Sekian ^_^

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s