1 The Story Only I Didn’t Know

Yang Yoseob, Jung Eunji, dan Lee Kikwang sedang duduk di depan perapian sambil mendengarkan tebak-tebakan di radio. Mereka berlomba menebak teka-teki yang diberikan oleh penyiar radio satu-satunya di Desa Shire.

Yoseob merupakan keturunan hobit yang hidup sebatang kara tanpa keluarga. Ayah dan ibunya meninggal karena peperangan yang diciptakan oleh Saruhong. Penguasa Menara Ortanch.

Yoseob berperawakan seperti hobit lainnya. Pendek dan gembul meskipun beberapa bulan terakhir ia memutuskan untuk menata bentuk tubuhnya, terutama bagian perut.

Kikwang merupakan satu-satunya hobit dengan perawakan yang paling tampan diantara kaum hobit lainnya. Ia adalah teman sepermainan Yoseob dan seringkali menginap di rumah jamur Yang Yoseob. Rambutnya yang agak ikal dan kemerah-merahan dengan tinggi diatas rata-rata kaum hobit serta wajah yang tampan membuatnya digandrungi oleh banyak para gadis hobit.

Satu-satunya gadis yang tidak tertarik pada Kikwang adalah Jung Eunji.

Jung Eunji merupakan seorang pendatang. Ia bukan penduduk Shire asli. Ia ditemukan oleh Yang Yoseob di depan gerbang Desa Shire saat masih berumur lima tahun.

Awalnya Yoseob tidak curiga dan membiarkannya tinggal di rumahnya. Namun, seiring bertambahnya usia, Eunji menunjukkan perawakan tak selayaknya kaum hobit. Ia berkulit putih, memiliki tinggi hampir sama dengan Yoseob. Di kaum hobit, wanita biasanya jauh lebih pendek dari kaum laki-laki.

Selain itu, nada bicara Eunji juga berbeda dengan kaum Hobit. Ia menggunakan dialek yang belum pernah didengar oleh bangsa hobit. Untuk menghindari kecurigaan warga hobit lainnya, Yoseob melarang Eunji keluar kecuali ke halaman rumahnya.

Keseharian Eunji biasanya hanya menyiapkan makanan, membaca di perpustakaan milik Yoseob, menjahit pakaian Yoseob serta bermain dengannya.

Tiba-tiba Yoseob, Kikwang, dan Eunji dikejutkan oleh suara gemerisik di halaman samping. Eunji berusaha mempertajam pendengarannya.

“ Oppa, sepertinya ada seseorang diluar.” Ujar Eunji setengah berbisik. Yoseob dan Kikwang juga turut mempertajam pendengarannya.

“ Apa Oppa punya janji dengan seseorang?” Tanya Eunji lagi. Yoseob menggeleng. “ Aku akan melihat keadaan.” Sahutnya.

Seraya lantas berdiri dan berjalan ke jendela. Langkahnya terhenti dan berbalik menatap Jung Eunji dan Lee Kikwang secara bergantian.

“ Tidak ada yang mau menemaniku?” tanyanya. Kikwang dan Eunji saling bertukar pandangan kemudian menggeleng. Yoseob mendesah dan kembali berjalan ke jendela.

Yoseob melongokkan kepalanya melihat ke kanan dan ke kiri dari jendela yang terbuka. Angin malam yang berhembus dari halaman samping terasa semakin dingin.

“ Tidak ada apa-apa.” Gumamnya. Seraya berbalik. Tiba-tiba kepalanya dilempari sesuatu. “ Aduh!” Serunya. Ia menoleh lagi keluar jendela sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.

“ Siapa yang iseng malam-malam begini? Hei, siapa pun kau, tunjukan wujudmu atau kalau tidak …. eng …. Kalau tidak …. Pokoknya tunjukan wujudmu!” seru hobit mungil itu. Jung Eunji yang penasaran akhirnya mendekati Yoseob.

“ Ada sesuatu di dekat kakimu, oppa.” Katanya. Yoseob menunduk untuk melihat benda yang dimaksud Eunji, saudara angkatnya. Hobit itu lantas membungkuk dan memungut benda kecil yang ternyata sebuah cincin perak polos. “ Ini bukan milikku.” Gumamnya. ‘ Juga bukan milikku.” Sambung Eunji.

Yoseob mengamati cincin itu. Sebuah tulisan terukir di bagian dalamnya. Tulisan tersebut diukir dengan sangat indah, halus dan hampir tak terbaca sehingga Yoseob harus membawanya ke tempat yang lebih terang. “ Aku tidak bisa membacanya. Apa ini tulisan yang bisa dibaca? Sepertinya cuma ukiran akar, bunga dan daun.” Gumam Yoseob.

Jung Eunji mendekat. “ Satu cincin untuk membawa mereka dan dalam terang menyatukannya. Di tanah Revendell dimana cahaya tinggal.” Eunji membaca ukiran itu dengan lancar.

Yoseob terkejut. “Kau bisa membacanya?” Eunji mengangguk. “ Aku pernah melihat ukiran ini di perpustakaan.” Kikwang mendekat.

“ Kikwang, apa kau tahu maksudnya?” Yoseob menyerahkan cincin itu pada Kikwang. Kikwang mengamati cincin yang disodorkan Yoseob. Kikwang segera menutup jendela dan memastikan semua pintu dan jendela terkunci. Setelah itu, ia mengambil penjepit kue dan memanggang cincin itu diatas nyala lilin.

“ Tak ada yang tahu kapan purnama tenggelam dalam pelukan matahari, saat kabut mulai menyalakan cahaya, kebenaran akan segera terungkap. Datanglah meski aku tak mengundangmu, hai sang Maia.”

Tepat setelah Kikwang menyelesaikan nyanyiannya, segumpal asap muncul dari cincin itu hingga memenuhi ruang tamu. Saat kabut asap sudah mulai menghilang, sesosok pria berjubah hitam dengan rambut gimbal brown panjang namun tertata rapi layaknya seorang aktor musikal muncul di ujung meja.

“ Selamat datang hai Penyihir Maia. Hanya saja, sepertinya tidak ada yang mengundangmu.” Sapa Kikwang sopan. Penyihir Maia atau yang lebih dikenal sebagai Penyihir Jang tersenyum dan berjalan mendekati Yoseob. Karena tubuhnya yang lebih tinggi dari sang hobit, Penyihir Jang duduk berjongkok dan meraih kedua tangan Yoseob.

“ Inikah anak itu?” Tanya Penyihir Jang pada Kikwang tanpa menoleh pada si hobit. “ Apa maksudmu?” Tanya Kikwang. Penyihir Jang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada cincin yang masih ada di penjepit kue yang dipegang oleh Kikwang. “ Berikan itu padaku.” Perintah Penyihir Jang. Kikwang menolak. Ujung mata Penyihir Jang berkerut.

“ Aku sedang mencari seorang keeper, hai hobit. Jangan menghalangi pekerjaanku.” Penyihir Jang mendekati Kikwang. Yoseob dan Eunji yang merasa Kikwang berada dalam bahaya segera menghalangi sang Penyihir. “ Ada waktunya untuk kita. Sekarang ada yang harus aku selesaikan dengan teman kalian.” Kata Penyihir Jang.

“ Tidak apa-apa. Dia tidak akan melukaiku.” Kata Kikwang. Dengan ragu, Yoseob dan Eunji bergerak menyingkir.

“ Apa yang kau inginkan, teman lamaku?” Tanya Kikwang.

Penyihir Jang mengeluarkan telapak tangannya. Sebuah peta terpahat secara magis. Sebuah titik kuning berkilauan muncul di peta magis tersebut. “ Apa maksudmu?” Tanya Kikwang.

“ Ini adalah cincin Beauty. Sebuah cincin yang bisa merubah dunia ini menjadi indah ataupun sebaliknya. Semua itu tergantung pada siapa pemiliknya dan bagaimana hatinya. Aku akhirnya menemukan cincin ini di Sungai Anduin. Lebih tepatnya, aku menemukannya setelah memperdayai Gollam, satu dari bangsa Smeagol yang telah memburu cincin ini sejak beribu-ribu tahun yang lalu.”

“ Kau merampasnya dari makhluk itu?” Celetuk Eunji. Penyihir Jang seperti tersengat sesuatu. “ Apakah kau manusia?” Tanya Penyihir Jang. Eunji tidak menjawab.

Penyihir Jang menoleh pada Yoseob. “ Aku rasa kau semakin tua, sahabatku sehingga tidak bisa membedakan membesarkan manusia atau hobit. Tapi itu bukan urusanku. Yah, tentu saja aku harus merampasnya hai anak manusia yang terjebak di dunia hobit.”

“ Kenapa? Kikwang tidak berteman dengan seorang pencuri.” Timpal Yoseob.

“ Oh, tentu saja aku bukan pencuri, hobit mungil. Aku hanya berusaha mencegahnya memiliki cincin itu.” Bantah Penyihir Jang.

“ Kenapa? Bukankah dia yang menemukan cincin itu?” Tanya Kikwang. Penyihir Jang menatap lekat-lekat pada Kikwang hingga hobit itu harus bersembunyi di antara Yoseob dan Eunji.

“ Karena begitu Smeagol itu mengenakan cincin itu, sang cincin menolak dan aku menangkapnya. Jadi aku tidak bisa dikatakan telah mencurinya. Cincin itu memilihku.” Jelas Penyihir Jang.

“ Tapi saat aku menggenggamnya, cincin itu memberikanku sebuah pesan. Ia meminta dikembalikan.” Sambung Penyihir Jang.

“ Dikembalikan pada siapa?” Kali ini Kikwang yang bertanya.
“ Tidak ada yang tahu siapa pemilknya. Ia hanya menunjukkan padaku bahwa hanya seorang Keeper yang bisa mengembalikannya.” Jawab Penyihir Jang. Yoseob, Eunji dan Kikwang saling berpandangan.

“ Lalu siapa itu Sang Keeper?” Tanya Eunji dengan hati-hati. Mata Sang Penyihir menyiratkan sebuah cahaya.

“ Akhirnya kau ada pertanyaan yang tepat. Saat ini aku belum tahu. Ketika aku melewati desa ini, tiba-tiba cincin itu memberontak dan kita menemukannya di rumah ini.”

“ Apa itu berarti, Sang Keeper ada di rumah ini?” Tanya Kikwang ragu-ragu. “ Sahabatku, cincinlah yang menentukan pilihannya. Jadi aku juga tidak tahu kecuali kita mencari tahu.” Jawab Penyihir Jang.

“ Bagaimana caranya?” Tanya Eunji. Yoseob dan Kikwang mengangguk setuju dengan pertanyaan Eunji.

“ Shire adalah desa hobit yang paling indah dengan kedamaian dan keharmonisan didalamnya. Mungkin karena itu, sang cincin memilih tempat ini untuk menentukan Sang Keeper. Dan pilihannya jatuh pada penghuni rumah ini. Apa kalian keberatan untuk mencobanya?” Penyihir Jang mengangkat cincin itu dengan kedua jarinya.

Yoseob, Kikwang dan Eunji terlihat cemas. “ Oh, tentu saja, kaum manusia tidak termasuk sebagai nominasi.” Celetuk Penyihir Jang.

Apa kau kira ini ajang Music Award? Celetuk Yoseob dalam hati. “ Aku mendengarmu bocah.” Kata Penyihir Jang. Yoseob segera menutup rapat bibirnya.

Cincin beralih di jari Kikwang. Cincin itu tidak memberikan reaksi apapun. “ Kali ini giliranmu, peri kecil.” Kata Penyihir Jang dengan penuh harap.

Yoseob menerima cincin itu. “Aku akan mencobanya dan aku ….. bukan peri kecil.” Tukas Yoseob. Penyihir Jang tersenyum, “ setidaknya begitulah perawakanmu dimataku.”

Yoseob tidak mengacuhkan celetukan Penyihir Jang dan perlahan mengenakan cincin itu di jari manisnya. Lampu-lampu ruangan berkedip-kedip. Daun jendela dan pintu yang tadinya terkunci mendadak terbuka tanpa seorang pun yang menyentuhnya. Semilir angin yang cukup kuat masuk ke ruangan. Yoseob terdorong ke belakang hingga tubuhnya menghantam dinding. Ia berteriak menahan sakit.

“ Auw!”

Semua orang tertahan di posisinya masing-masing hingga keadaan kembali normal. Lampu kembali menyala seperti sedia kala. Penyihir tua segera mengeluarkan sihirnya untuk menutup dan mengunci pintu dan jendela. Setelah itu, ia meraih kerah Yoseob dan menjinjingnya ke atas meja.

“ Ikuti apa yang aku ucapkan. Satu cincin untuk membawa mereka dan dalam terang menyatukannya. Di tanah Revendell dimana cahaya tinggal”

“ Itu yang diucapkan Eunji tadi.” Gumam Yoseob. Penyihir Jang menoleh pada Eunji. Gadis itu sedikit ketakutan. “ Aku hanya membacanya.” Jawab Eunji dengan takut-takut.

” Apa kau menyentuhnya?” Tanya Penyihir Jang dengan cemas. Eunji menggeleng, “ aku tidak menyentuhnya.”

Penyihir Jang kembali menoleh pada Yoseob. “ Ikuti yang kukatakan. Satu cincin untuk membawa mereka dan dalam terang menyatukannya. Di tanah Revendell dimana cahaya tinggal.” Yoseob dengan takut-takut akhirnya mengikuti kata-kata yang diucapkan oleh Penyihir Jang.

Mendadak sebuah cahaya muncul dari sang cincin. Cahaya keperak-perakkan. Mata Penyihir Jang terpana. “ Cincin alam telah berubah menjadi cincin Beauty. Ia telah kembali hidup. Berikan tanganmu!” Perintah Penyihir Jang lagi. Yoseob terkejut dan secepat kilat menyodorkan tangannya hingga mengenai perut Penyihir Jang.

“ Aduh, apa kau seorang petinju? Kenapa memukul perutku.” Bentak Penyihir Jang. “ Aku memang belajar boxing sejak lima bulan yang lalu.” Jawab Yoseob polos.

“Wajahmu tidak cocok untuk jadi seorang petinju.” Gumam Penyihir Jang.

Jung Eunji dan Lee Kikwang tertawa mendengarnya. Yoseob membelalakkan matanya untuk membuat keduanya diam.
“ Buka tanganmu.” Perintah Penyihir Jang. Yoseob mematuhinya dengan kesal.

“Singkirkan amarahmu atau ini akan terasa sakit.” Sambung Penyihir Jang.

Yoseob lantas tersenyum. “ Begitu lebih baik. Sekarang aku akan menyalin peta ini ke telapak tangan kirimu. Pikirkan sesuatu yang indah untuk mengurangi rasa sakitnya.”

Penyihir Jang bersiap melakukan proses penyalinan. “ Apa kau akan menato peta itu? Wow keren! Tiga tahun yang lalu aku punya tato yang bertuliskan car wash self customer is king di lengan kiriku.” Yoseob menyombong.

“ Tato? Bukannya itu hanya face painting?” Celetuk Kikwang. Eunji mengangguk, “bahkan bisa hilang hanya dengan mencucinya di westafel.” Sambung gadis itu. Yoseob kembali cemberut. “ Senyum!” perintah Penyihir Jang. Dengan reflek Yoseob tersenyum.
Penyihir Jang meletakkan tangannya diatas tangan Yang Yoseob. “ Kenapa tanganmu jauh lebih besar dari pada wajahmu?” Gerutunya. Yoseob meringis. Yoseob memperhatikan apa yang dilakukan Penyihir Jang.

Sang Penyihir mengucapkan mantra. “ Geminio!” Tidak terjadi apa-apa di telapak tangan Yoseob. “ Apa kau benar-benar penyihir?” Tanya Yoseob.

Penyihir Jang melotot. Yoseob menutup rapat bibirnya. Penyihir Jang memegang pergelangan tangan Yoseob. Seraya memejamkan mata kemudian sisi tangan lainnya mengusap-usap telapak tangan Yoseob hingga hobit mungil itu kegelian.

“ Aparecium.” Gumam Penyihir Jang. Perlahan sesuatu muncul di telapak tangan Yoseob. Semua orang mendekatinya untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah peta yang identik bahkan lebih lengkap dari pada milik Penyihir muncul di telapak tangan Yoseob.

“ Cincin Beauty benar-benar telah memilihmu. Ia telah menggambarkan peta itu sebelum aku menemukanmu. Peta itu sudah ada sejak awal hanya saja tidak terlihat.” Ujar Penyihir Jang.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Tanya Yoseob. Penyihir Jang membungkuk dan membisikan sesuatu. “ Pergilah ke Revendell dan temukan pemilik cincin itu yang sebenarnya sebelum Saruhong menemukanmu dan merebutnya untuk menguasai dunia. Saat itu terjadi maka cincin ini bukan lagi bernama cincin Beauty melainkan cincin kegelapan.”

Penyihir Jang menarik tangan Kikwang dan mengucapkan mantra, “ Geminio.” Sebuah peta yang serupa muncul pula di telapak tangan Kikwang. “ Temani Yoseob dan lindungi dia sampai ia berhasil melakukan misinya.” Kikwang terlihat tidak setuju. “ Apa aku harus mengawasai bocah ini? Dia kan hiperaktif. Aku akan dengan cepat kehilangan dia diperjalanan nanti.”

“ Peta ini akan membantumu melindungi Yoseob. Jika kau kehilangan bocah ini atau sesuatu yang buruk terjadi, sentuh peta ini dan bantuan akan muncul membantu kalian. Yoseob tidak bisa memanggil penyihir sepertiku karena peta yang asli itu menghalanginya. Tapi aku bisa dipanggil dengan menyentuh peta salinan ini.” Jelas Penyihir Jang.

Kikwang dan Yoseob tampak masih ragu. Penyihir Jang menatap lekat-lekat mata Yoseob. “ Hanya kau yang bisa menjaga cincin ini hingga ia aman ditangan yang sah. Kau adalah pelayan terbaik dalam misi ini.”

“ Apa Eunji bisa ikut?” Celetuk Kikwang. Penyihir Jang tampak kurang setuju. Kikwang mengemukakan alasannya. “ Yoseob dan Eunji tidak pernah berpisah sejak kecil.

Eunji akan sangat sedih dan kesepian ditempat ini.” Air mata Kikwang berlinang. “ Baiklah, tapi aku tidak akan menanggung akibatnya.” Kata Penyihir Jang. Kikwang senang mendengarnya.

Yoseob menatap Eunji. Gadis dari bangsa manusia itu tertunduk. Yoseob tahu kalau Eunji tidak rela dipisahkan. Selama ini Yoseob sudah menjadi saudara angkat yang lebih dekat dari keluarga Eunji yang entah ada dimana.

Yoseob mendekati gadis itu.

“ Yak! Jangan memintaku menggendongmu kalau nanti ada lomba menggendong sambil marathon berhadiah daging sapi korea lagi! Mengerti?” Kata Yoseob sambil berakting galak. Eunji mengusap air matanya dan membalas tatapan Yoseob.

“ Aku juga menggendong oppa waktu oppa kelelahan di lomba itu!” Sungutnya.
Yoseob melotot, “ aku diberitahu harus bertemu dengan gadis yang baik. Apa benar kau gadis itu?” gerutunya lalu menoleh pada Penyihir Jang.

“Aku tahu ini akan jadi perjalanan yang berbahaya. Tapi aku akan berusaha untuk melindungi orang-orang yang kusayangi.” Dengan begitu, perjalanan dua hobit dan satu manusia dimulai.

to be continued

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s