3 WHO YOU

WHO YOU?

Selasa. Esok harinya setelah insiden di Gunung Dongdae.

Matahari belum benar-benar menampakkan tajinya saat kabar tentang seorang pelajar hilang di Gunung Dongdae menyebar di seluruh penjuru kota. Beberapa media mulai menghubungan hilangnya pelajar itu dengan penampakan UFO di malam sebelumnya. Pihak petugas setempat berusaha menutupi insiden yang terjadi di Gunung Dongdae.

Mereka beralasan bahwa hilangnya si pelajar disebabkan adanya angin kencang yang melanda daerah tersebut sehingga memungkinkan si pelajar tersesat. Tim SAR sedang mengupayakan pencarian yang lebih cermat lagi di setiap sudut kawasan hutan.

Media tak bisa dibohongi, mereka tetap merilis setiap isu yang beredar berdasarkan saksi-saksi yang mengaku melihat langsung adanya UFO yang melintas di kawasan mereka. Beberapa saksi bersedia memberikan info meskipun sebagian besar lebih memilih tutup mulut. Orang-orang yang memilih tutup mulut adalah mereka yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selain itu, pengumuman resmi dari pemerintah setempat telah dikeluarkan bahwa tidak ada sesuatu yang ganjil berdasarkan hasil rekam dari kantor antariksa korea.

Kawasan pintu masuk ke Gunung Dongdae di jaga ketat oleh petugas pasca kabar hilangnya seorang pelajar. Beberapa pencari berita dan kamera tampak sibuk lalu lalang di sekitarnya. Selain di kawasan Gunung Dongdae, kawasan SMA X juga dikerubungi oleh wartawan. Kepala Sekolah SMA X, Direktur Nam Ji Hyun tampak stress di ruang kerjanya. Berkali-kali telepon kantor dan telepon genggamnya berdering. Direktur Nam memanggil wali kelas pelajar yang dikabarkan hilang di kawasan jatuhnya UFO dua hari yang lalu.

“ Guru Heo, kau sudah dapat kabar terbaru dari siswa yang hilang itu?” Tanya Direktur Nam. Guru Heo Gayoon berdiri di depannya.

“ Selain bukti tas dan seragam sekolah yang ditemukan petugas, saya belum menerima kabar lagi.” Jawab Guru Heo.

“ Keluarganya?” Tanya Direktur Nam. Guru Heo menggeleng pelan. Putus asa.

“ Aku juga belum mendapatkan kabar dari petugas. Kalau dia meninggal, bagaimana mungkin jasadnya tidak ditemukan dimana pun. Jangan-jangan…” Direktur Nam bergumam pada dirinya sendiri.

“ Jangan-jangan kabar dia diculik Alien itu benar!” Tiba-tiba Guru Yoon muncul dari balik pintu. Kedua wanita itu terkejut.

“ Guru Yoon! Apa yang kau lakukan?” Tegur Direktur Nam. Guru Yoon meringis dan menoleh pada Guru Heo.

“ Gosip penculikan Yang Yoseob sudah menyebar diantara para murid. Aku tidak bisa mencegahnya.” Guru Yoon memasang wajah yang jenaka pada Guru Heo.

“ Kenapa kau disini?” Tanya Guru Heo ketus. Guru Yoon tersenyum malu-malu.

“ Aku mencemaskan Guru Heo. Bagaimana pun ini menyangkut siswa di kelas Guru Heo. Pasti berat menjalaninya, tapi aku selalu mendukung Guru Heo.” Sekali lagi Guru Yoon memasang wajah serius yang jenaka.

“ Apa kalian sedang syuting drama? Kembalilah mengajar.” Tegur Direktur Nam. Guru Heo membungkuk permisi diikuti oleh Guru Yoon.

Guru Heo mengemasi buku-bukunya di meja kerja dan bergegas menuju kelasnya. Dibelakangnya, Guru Yoon sibuk berceloteh mengenai kasus yang menimpa Yang Yoseob.

“ Yoon Seonsengnim. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah mencemaskanku dan muridku. Aku rasa sekarang yang bisa kita lakukan adalah menunggu kabar dari petugas. Bagaimana pun, kasus ini bukan kasus kehilangan biasa. Oleh karena itu, aku harap Yoon Seonsengnim memahami kondisiku saat ini dan membiarkan aku sendiri.” Tutur Guru Heo. Guru Yoon terdiam. Sebelum guru olah raga itu mulai berceloteh lagi, Guru Heo segera meninggalkannya.

“ Aku hanya ingin menghiburmu, Guru Heo.” Gumam Guru Yoon dengan wajah sedih. Beberapa guru yang melihat ekspresinya tertawa dan mengejeknya.

“ Yoon Seonsengnim, Guru Heo mungkin sudah punya kekasih.” Kata Guru Kim, guru sejarah.

“ Benar. Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk mendekatinya.” Sambung Jonas Park, guru bahasa inggris.

“ Lebih baik Guru Yoon mulai mencari yang lain.” Celetuk guru yang lain.

“ Siapa?” tanya yang lainnya.

“ Direktur Nam. Dia kan masih single.”

Rabu. Hari kedua setelah insiden di Gunung Dongdae.
Junhyung duduk di salah satu gazebo yang biasa digunakan belajar oleh para siswa disana. Ia sedang membaca komik The Beast, kesukaannya. Tak lama kemudian, Naeun menghampirinya. Ia merebut komik yang tengah dibaca cowok itu. Junhyung mendongakkan kepalanya. Ia hendak marah tapi begitu melihat Naeun, senyum mengembang di bibirnya.

“ Halo, honey.” Suaranya terdengar genit. “ Kau bisa memanggilku tanpa harus merebut komik itu.” Bola mata Naeun berputar-putar jenuh. “ Aku nggak datang kesini untuk bergenit-genitan denganmu. Dengarkan aku!” Naeun mengecilkan suaranya. Ia mendekat pada Junhyung.

“ Ini sudah dua hari sejak anak itu kau bawa pergi.” Kata Naeun. Mata Junhyung mulai tidak fokus.

“ Apa maksudmu?” Tanya Junhyung berusaha tenang.

“ Jangan pura-pura! Aku tahu kau yang membawa anak itu. Sekarang katakan padaku dimana anak itu kau sembunyikan sebelum semuanya semakin kacau.” Naeun menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada. Ia takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.

“ Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Honey.” Junhyung memperbaiki posisi duduknya. “ Lagi pula, kalau anak itu tidak ada justru akan lebih baik untuk kita berdua.” Junhyung menyibakkan rambutnya dengan tangan.

“ Ada atau tidak adanya anak itu, nggak ada hubungannya denganku.” Sahut Naeun.

“ Lalu, kenapa kau jadi sewot begitu?” Tanya Junhyung.

“ Junhyung. Ini persoalan hilangnya seseorang di sekolah kita dan seseorang itu adalah seseorang yang kita sama-sama tahu, dan sangat kau kenal. Apa kau nggak merasa perlu membantu?” Tekan Naeun. Junhyung merasa kesal. Ia lantas berdiri.

“ Sama sekali nggak.” Usai berkata seperti itu, Junhyung beranjak pergi.

Kamis. Hari ketiga setelah insiden di Gunung Dongdae.

SMA X melakukan ritual doa bersama untuk Yang Yoseob, pelajar yang hilang di Gunung Nam. Semua guru, siswa dan pegawai sekolah berumpul di aula sekolah. Kepala sekolah berdiri di podium. Setelah menyampaikan kata-kata simpati, ia mempersilahkan seorang pendeta untuk maju dan memimpin ritual doa bersama.

Disela-sela ritual doa, terlihat Naeun mencari-cari Junhyung. saat mata gadis itu menangkap sosok Junhyung yang berdiri tak jauh darinya di barisan laki-laki, matanya mengisyaratkan sesuatu. Seolah-olah mengatakan “ Cepat katakan apa yang kau lakukan padanya!” Junhyung berusaha menghindari tatapan Naeun. Perlahan tangannya mengepal namun bergetar. Ia gugup dan takut.

Jumat. Hari keempat pasca insiden di Gunung Dongdae.

Tim Sar menemukan gelang yang diyakini oleh orang tua Yoseob sebagai gelang pelajar itu. “ Itu gelang pemberian kakeknya saat berumur lima tahun.” Penjelasan orang tua Yoseob itu terasa sangat menyakitkan. Semakin jelas kalau pelajar itu memang Yang Yoseob, anak semata wayangnya. Pemerintah setempat mengeluarkan pernyataan bahwa Yang Yoseob hilang saat bermain-main di kawasan Gunung Dongdae. Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan orang tua Yoseob. “ Ia memang suka menyendiri di tempat-tempat yang sepi.”

Sabtu. Hari kelima pasca insiden di Gunung Dongdae.

Insiden penampakan UFO dan hilangnya pelajar di Gunung Dongdae mulai dilupakan oleh warga di Gyeongju. Mereka mulai beraktivitas seperti biasanya. Bahkan di SMA X, gosip itu sudah mulai tidak menarik. Beberapa wartawan sudah pergi meskipun masih ada yang tetap tinggal. Hanya orang tua Yoseob yang masih tidak menerima kenyataan anaknya dinyatakan tersesat dan hilang saat bermain di Gunung Dongdae.

Jumat. Sebelas hari pasca insiden di Gunung Dongdae.

Jam pulang sekolah telah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Beberapa anak masih tinggal di sekolah untuk menyelesaikan sesuatu. Salah satu dari mereka adalah Jung Eunji. Ia masih berada di lab astronomi. Jung Eunji merupakan salah satu anggota klub astronomi. Ia diberi tugas oleh Gina, ketua klub untuk mengamati rasi bintang. Jung Eunji berniat menginap di sekolah malam ini.

Eunji memeriksa perlengkapan menginapnya. “ Sleeping bag, handuk, perlengkapan mandi, oh! Aku lupa bawa makanan.” Eunji memutuskan untuk keluar membeli makanan. Jung Eunji menutup tas perlengkapannya. Saat keluar, ia mengunci pintu ruang klub astronomi.

Jung Eunji melewati beberapa ruang klub lainnya. Beberapa diantaranya masih berpenghuni. Jung Eunji menyapa mereka. Sepertinya mereka juga berniat untuk menginap atau tinggal hingga malam.

“ Eunji. Kau mau keluar?” Tanya Hyunseung, anggota klub seni bela diri.

“ Aku boleh titip sesuatu?” Yuga mendekatinya. Eunji mengangguk.

“ Titip apa?”

“ Lotion anti nyamuk. Malam ini klub akan melakukan latihan diluar. Kau tahu sendiri kan kalau sekolah kita dekat hutan. Banyak nyamuk.”

Jung Eunji mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir dan mengayuhnya. Eunji menghentikan sepedanya di depan toko. Setelah selesai membeli keperluannya dan titipan Hyunseung, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Gadis itu menoleh ke dalam swalayan.

Tak ada siapa-siapa disana kecuali seorang pengunjung yang sedang celingak-celinguk. Kening Jung Eunji berkerut. “ Apa dia pencuri?” gumam gadis berponi itu. Eunji menoleh ke sekelilingnya. Tak ada seseorang pun di jalanan itu. Matahari sudah tenggelam sejak dua jam yang lalu. Kawasan ini memang tidak terlalu ramai. Bahkan jam sembilan malam sudah jarang orang lalu lalang. Eunji menoleh pada petugas toko. Petugas itu sudah tidak ditempatnya. Mungkin ke toilet.

Jung Eunji perlahan melangkah memasuki swalayan secara diam-diam. Ia bersembunyi di rak-rak buku masakan. Sambil berpura-pura membaca buku, gadis itu mengamati sosok mencurigakan itu. Eunji tersadar akan sesuatu. Sosok itu menggunakan seragam yang sama dengan seragam sekolahnya. “Apa dia dari sekolahku? Seragamnya sama.” Bisiknya.

Agaknya bisikan Eunji terdengar oleh sosok mencurigakan itu. Sosok itu segera menoleh, Eunji terkejut karena suara bisikannya bias didengar dari jarak yang cukup jauh untuk sekedar mendengar bisikan. Eunji lebih terperanjat lagi saat tahu siapa sosok mencurigakan itu.

“ K..kk..kau…. Y…Yang….Y…Yoseob?”

“ Yang Yoseob!” Suara Jung Eunji tercekat. Cowok yang berwajah dan berpostur sangat mirip dengan Yang Yoseob yang diberitakan muncul di depan Jung Eunji. “ K..kau masih hidup?” Eunji tidak mempercayai apa yang dilihatnya.

Yoseob terdiam. Kedua tangannya memeluk sesuatu. Eunji mendekat. Yang Yoseob bergerak menjauh. Ia menoleh ke sekeliling kalau-kalau ada orang lain. Eunji mencermati apa yang dipeuk oleh Yoseob. Beberapa cokelat, snack, dan obat-obatan. Penjaga toko muncul, Yang Yoseob panic. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Eunji seperti memahami sesuatu. Ia mengeluarkan dompetnya. “ K..kau bisa menggunakannya.”

Yang Yoseob berjalan dengan cepat seolah ingin berlari. Dibelakangnya, Jung Eunji mengikuti. Saat sedang panic itu, kaki Yoseob tersandung sesuatu. Makanan dan kaleng minuman yang ada di pelukannya berserakan. Eunji buru-buru membantunya
“ A..aku tidak begitu mengenalmu,” hanya itu yang keluar dari bibir Yoseob. Eunji mengghentikan gerakannya. “ Aku juga tidak begitu mengenalmu.” Celetuknya lantas kembali membantu Yoseob. “ Tapi ini benar-benar menakjubkan. Apa k…kau benar-benar Yang Yoseob? Bahkan gosipnya kau selalu dibuli oleh Junhyung dan kawanannya. K..kau benar-benar Yang Yoseob. Aku benarkan?” Eunji menatap wajah Yoseob lekat-lekat.

“ Kau tahu? Gosip yang beredar benar-benar konyol. Ada yang bilang kalau kau diculik alien. Kau tahu? Alien yang ada di dalam piring terbang! Piring terbang yang seluruh penduduk kota sudah lihat namun dunia tidak percaya itu! Yah, itu memang terdengar konyol, tapi kalaupun itu benar, aku akan mempercayainya.” Eunji terus berceloteh.
“K..kau mempercayainya?” Suara Yoseob tercekat.
Jung Eunji mendongakkan kepalanya. Matanya menatap mata Yang Yoseob. “ Tentu saja! Aku dan oppa-ku sering membahasnya. Membahas kalau kau benar-benar telah diculik alien.”
“ Dia tidak menculikku!!” Bentak Yoseob. Eunji terkejut.
“ Dia?”

Yoseob mengajak Eunji ke tempat persembunyiannya selama ini. Sebuah gua yang terletak di cengkungan yang disebut cekungan Gyeongsang. Di dinding goa yang bias dilihat dari luar terdapat pahatan patung Budha. Kawasan ini memang kental dengan sejarah Silla sehingga banyak ditemukan bukti-bukti sejarah. Gyeongju disebut ‘Museum Tanpa Dinding’ bukan tanpa alasan. Bahkan di pedalaman hutan pun bukti-bukti itu sangat jelas terlihat.

Eunji mengikuti Yoseob dengan perasaaan bercampur aduk. Takut, cemas, penasaran, dan senang. Sudah lama sekali ia tidak berpetualang seperti ini. Yoseob menggeser batu yang menghalangi jalan mereka. Langkahnya mendadak terhenti. Seraya menoleh pada Eunji.
“ K…kau bias aku percaya?” tanyanya lebih untuk meyakinkan diri sendiri. Eunji mengangkat tangan kanannya seperti sedang bersumpang dan mengangguk yakin. “ Aku segel janjiku.”
“Hah?”
“ Maksudku, kau bisa mempercayaiku.”
Yoseob melanjutkan langkahnya, Eunji kembali mengikutinya. Suasana dalam goa semakin gelap apalagi mereka sama sekali tidak menggunakan penerangan. Eunji tersandung sesuatu hingga tubuhnya terhuyung kedepan dan menubruk Yoseob.

“ Ah, maaf.” Kata Eunji buru-buru. Tapi belum sempat Yoseob mengatakan sesuatu Eunji kembali tersandung sesuatu. Kali ini ia tidak menabrak Yoseob melainkan langsung terjatuh.

“ Kau.. tidak apa-apa?” Tanya Yoseob. Eunji meringis.
“ Ah, iya. Hanya saja…” kata-kata Eunji terhenti saat Yoseob sudah ada di depannya dan meraba kakinya.
“ Aa!!” Teriak Eunji. Antara marah dan kesakitan.
“ Kakimu terkilir. Apa kau bisa berdiri?” Tanya Yoseob dalam kegelapan. Eunji masih kesal, seraya berkata, “ aku coba.”
“ Aduh!”
Yoseob langsung memeluk tubuh Eunji yang kembali tumbang. Eunji terkejut, begitu pun dengan Yoseob. Beruntung tak ada cahaya apapun yang bisa membuat rona wajah keduanya yang memerah terlihat. Meskipun demikian, suasana hangat menyelimuti keduanya yang sama-sama malu.

“ A..aku tidak apa-apa.” Kata Eunji. Yoseob perlahan melepaskan pelukannya. Mereka terdiam sejenak. “ K..kau bisa naik ke punggungku.” Yoseob mengucapkannya dengan terbata-bata.

“He-eh?”
“ Maksudku, akan sulit bagimu jalan dalam suasana gelap dengan kaki yang terluka. A.. aku bisa menggendongmu.” Yoseob membelakangi Eunji dan menunggu tanggapan gadis itu. Dengan ragu-ragu Eunji memegang bahu Yoseob dan menyandarkan tubuhnya ke punggung cowok itu.

Yoseob berjalan dengan hati-hati, namun karena gelap kakinya yang kini tersandung. Tak ayal, tubuh Eunji terlempar kedepan.

“Hwuaa!!”

Hop!

Seseorang menangkap tubuh mungil itu. Perlahan goa menjadi sedikit terang. Kini Eunji dapat melihat Yoseob yang tersungkur dengan posisi wajahnya menghantam tanah, membuat hidungnya yang pesek kotor.

Tunggu dulu! Kalau Yoseob tersungkur didepannya, lantas siapa yang saat ini menggendongnya? Eunji segera menoleh. Sesosok makhluk dengan kulit wajah yang putih lembut berseri tersenyum padanya. Senyumannya itu membuat mata makhluk itu menyipit dan semakin memperliatkan sebelah kelopak matanya yang hanya memiliki double eyedlid sebelah.

Mata Eunji seperti terhipnotis sesuatu. Mulutnya menganga, matanya membesar. Perlahan tubuh Eunji diturunkan. Tangan makhluk itu mengelus pergelangan kaki Eunji. Terdengar bunyi tulang yang digerakkan.

Anehnya Eunji sama sekali tidak merasakan sakit. Kakinya kini terasa nyaman, dengan terbata-bata bertanya.
“ Who You?”

to be continued

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s