2 Hurt and Lost

Yoseob melewati ruang perlengkapan olah raga. Beberapa menit yang lalu, Yoon Seonsengnim menyuruhnya untuk mengambil bola. Pagi ini, pelajaran olah raga yang sebenarnya sangat disukainya namun juga sangat ingin dihindarinya. Ada beberapa alasan mengapa ia sangat ingin kabur dari pelajaran olah raga. Salah satunya adalah Junhyung dan komplotannya.

Yoseob menghentikan langkahnya di depan jendela. Diseberang jendela, terlihat Junhyung sedang duduk dikerumuni oleh kawanannya. Pandangan JunhyungJ mengarah pada Naeun yang sedang melakukan pemanasan. Yoon Seonsengnim datang sambil meniupkan peluit. Semua anak berkumpul. Yoseob bergegas mengambil bola-bola dalam keranjang dan mendorongnya ke lapangan. Saat melewati Junhyung, cowok itu memukul kepalanya. “ Kau membuat kami menunggu!”

Yoon Seonsengnim sedang mengabsen sehingga tidak melihat kelakukan Junhyung. Yoseob tertunduk dan langsung berjalan ke posisinya setelah meletakkan keranjang bola disamping Yoon Seonsengnim.

“ Oke. Sekarang kita akan bermain bola tangkap. Saya akan membagi kalian menjadi dua tim. Dengarkan baik-baik.”

Entah sudah takdir atau Yoon Seonsengnim dan Junhyung memiliki kesepakatan tertentu, Yoseob berada di tim yang berbeda dengan Junhyung dan itu menjadikannya sebagai sasaran empuk. Beberapa kali bola mengenai tubuh Yoseob. Cowok itu hanya meringis saat hantaman bola yang cukup keras mengenai kepalanya. Semua temannya tertawa.

“ Dilarang mengenai kepala! Perhatikan arah lemparan, Yong Junhyung.” seru Yoon Seonsenganim menyerukan nama lengkap Junhyung. Junhyung hanya membungkuk meminta maaf pada Seonsengnim dan tersenyum mengejek pada Yoseob.

Kini, giliran tim Yoseob yang berperan sebagai pelempar. Saat bola berada di tangkapan Yoseob, secara reflek ia melemparkannya pada target yang berada di dalam lingkaran. Saat ia sadari, ternyata lemparannya mengenai Naeun. Lemparannya tidak kuat namun cukup untuk membuat Naeun terkejut. Junhyung yang melihat itu langsung naik darah.

“ Apa-apaan kau!” Bentaknya. Sebelum Junhyung berjalan kearah Yoseob, Yoon Seonsengnim menahannya dan bertanya pada Naeun. “ Kau tak apa-apa?” tanya beliau. Naeun mengangguk. “ Hanya kaget, Seonsengnim.” Jawab Naeun. Yoon Seonsengnim berseru.

“ Ini hanya permainan. Lanjutkan.” Perintah beliau.

Junhyung mengurungkan langkahnya. Dengan tatapan seperti hendak menelan hidup-hidup, Junhyung menatap Yoseob dan berlalu. “ Awas kau!!” Desisnya. Yoseob mendengarnya meskipun dalam keramaian. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi hampir disetiap pelajaran olah raga.

Seusai jam sekolah.
Ilhoon mendorong Yoseob dari mobil Junhyung. Junhyung keluar dari kursi penumpang depan diikuti oleh Minhyuk yang mengambi posisi sebagai pengemudi. Junhyung cs ‘mengajak’ Yoseob ke area hutan. Yoseob terjatuh di atas rerumputan yang kering kecoklatan. Ilhoon menarik paksa tubuhnya agar berdiri. Cowok yang bertubuh tidak lebih besar dari Yoseob hanya saja lebih tinggi itu mendorong Yoseob agar memasuki lebih dalam kawasan hutan di Gunung Dongdae.

“ Apa isi otakmu, hah?” Tanya Junhyung pelan tapi penuh tekanan. Tangannya bergerak memijat-mijat bahu Yoseob. Yoseob hanya tertunduk. “ Aku tidak sengaja.” Gumamnya hampir tak terdengar. “ Apa?” Tanya Junhyung sambil mengarahkan telinganya ke bibir Yoseob.

Junhyung melepaskan pegangannya, menjauhkan wajahnya dari Yoseob. Seraya menoleh pada dua ajudannya. Seperti telah mengerti apa yang dimaksud Junhyung, Ilhoon dan Minhyuk membawa Yoseob ke tempat yang lebih gelap dan tertutup semak belukar. Junhyung duduk di atas batu besar sambil mengeluarkan sebatang rokok. Ia mengisapnya tepat saat terdengar erangan dari Yoseob. “ Jangan terlalu berisik.” Tegur Junhyung santai. Lalu terdengar suara hantaman yang cukup keras namun kali ini tak ada suara erangan dari Yoseob.

Dua menit kemudian, Ilhoon dan Minhyuk muncul. Minhyuk menyentuh bahu Junhyung. Cowok itu menoleh. Minhyuk memberikan kode untuk segera pergi dari tempat itu. “ Tinggalkan dia?” Usul Junhyung, lebih pada perintah. Minhyuk dan Ilhoon mengangguk. “ Good idea.” Celetuk Junhyung. Lantas seraya berteriak pada Yoseob, “ kau bisa merenung disitu. Katanya gunung ini dulu juga tempat Ratu Seonduk merenung. Tapi tentu saja, kau hanya akan tahu betapa lemahnya dirimu. And good luck, mudah-mudahan kau bertemu makhluk lain dan pergi bersamanya. Jadi, aku tidak perlu melihatmu lagi.” Ejek Junhyung, teman-temannya tergelak mendengarnya.

“ Ayo! Sebelum ada yang memergoki kita disini.” Kata Ilhoon. Junhyung mengangguk. Ia menjatuhkan puntung rokoknya dan segera beranjak dari tempat itu bersama Ilhoon dan Minhyuk.

Yoseob masih terpuruk di tempat yang sama selama sepuluh menit sebelum akhirnya tangannya bergerak untuk memegang dadanya yang sakit karena hantaman Minhyuk dan Ilhoon. Mata Yoseob berkedip-kedip dengan lemah. Nafasnya terasa berat karena sesak yang dirasakannya saat menghela dan mengembuskan nafas. Yoseob menggerakkan kakinya agar ia bisa memperbaiki posisinya dengan duduk bersandar di batuan yang sudah tertutupi tanaman rambat.

Ia menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah. Perlahan kemudian, cowok itu kembali menutup matanya menahan sakit dan tertidur.
Yoseob terbangun saat seekor binatang yang mirip tupai melewati wajahnya. Angin berhembus dengan sangat kencang membuat Yoseob sulit membuka matanya. Matahari sudah tenggelam sejak beberapa saat yang lalu. Sebuah cahaya menyilaukan menembus semak-semak tempat Yoseob “disembunyikan” oleh Junhyung cs. Yoseob memperbaiki posisi duduknya agar bisa melihat dengan jelas dalam desiran angin yang mulai tenang.

Suasana disekeliling Yoseob terasa dingin dan mencekam. Mata Yoseob terbelalak. Mulutnya menganga. Jantungnya bergedub dengan kencang. Nafasnya tercekat bukan karena sakit di dadanya tapi karena apa yang dilihatnya. Sesuatu yang tidak normal. Sesuatu yang menjadi misteri sejak jaman peradaban Yunani masih berkuasa, atau bahkan saat atlantis masih ada.

Sebuah benda yang hanya ia lihat di buku-buku khusus dan tayangan-tayangan khusus kini ada dihadapannya. Sebuah benda yang mirip piring terbang atau lebih tepatnya gasing, mendarat tak jauh darinya. Yoseob tidak dapat berpikir apa-apa selain diam mematung dan pucat di tempatnya. Tak beberapa lama, satu kawanan makhluk berjubah abu-abu gelap keluar dari salah satu pintu. Mereka menggunakan penutup kepala sehingga wajahnya tidak terlihat. Yoseob tidak dapat melihat apa pun selama beberapa menit karena silaunya cahaya yang keluar saat pintu terbuka.

Seolah mendapat teguran dari suatu tempat, Yoseob tersadar saat matanya menangkap sosok salah satu dari mereka sedang berdiri menatap ke tempatnya bersembunyi. Entah ia tahu atau tidak bahwa ada seseorang diantara semak-semak, sosok itu lantas berjalan mendekati tempat persembunyian Yoseob. Yoseob menunggu dengan cemas, tegang, dan terdiam kaku.

Makhluk itu hanya berjarak kurang dari seratus meter dari tempat Yoseob bersembunyi saat sosok lainnya muncul tepat di depan pandangan Yoseob. Sosok itu menghadap ke arah makhluk yang sebelumnya. Mereka terdengar seperti berbicara satu sama lain. Yoseob mendengarnya seperti suara desingan aliran listrik, desingan peluru yang keluar dari pistol kedap suara, suara air mendidih di ketel, suara gemerincing uang logam dan suara desisan ular yang berbaur jadi satu. Sesaat kemudian, salah satu dari makhluk itu mengeluarkan bunyi mirip siulan namun lebih lembut. Mereka lantas berjalan ke pesawat piring terbang. Satu per satu dari kawanan itu masuk kembali ke pesawat piring terbang. Yoseob baru menyadari bahwa makhluk-makhluk itu berjalan seolah-olah terbang meskipun tidak benar-benar terbang. Nyaris tanpa suara. Tak lama kemudian, pintu tertutup dan pesawat piring terbang itu melayang secara perlahan.

Tidak seperti saat kedatangannya, pesawat itu melayang hampir tidak menimbulkan angin yang kuat selain semilir layaknya angin sore di musim semi. Bahkan, tak ada suara yang membuat telinga sakit seperti jika pesawat terbang tinggal landas. Belum sampai tiga detik sejak ia melayang, sebuah helikopter tampak berputar-putar diatasnya. Dibelakang helikopter itu, entah dari mana datangnya, muncul beberapa pesawat tempur.

Piring terbang itu mengeluarkan cahaya merah dan biru yang menyala di setiap jendelanya. Cahaya itu diteruskan keluar sehingga terlihat cahaya keluar dari tubuh pesawat piring terbang. Cahaya kemudian berubah menjadi cahaya putih menyilaukan. Tak berapa lama, salah satu dari pesawat tempur itu mengeluarkan tembakan. Silaunya cahaya membuat tembakannya meleset.

Entah karena makhluk yang berada di dalam pesawat piring terbang itu merasa terganggu dan marah atau karena adanya mesin pertahanan otomatis di tubuh pesawatnya, sebuah kapsul yang muat untuk satu orang dewasa muncul dari pintu paling bawah pesawat. Pintu itu seperti layaknya landasan pesawat tempur yang ada di pesawat tempur induk milik angkatan udara di beberapa negara maju seperti yang sering Yoseob lihat di film-film.
Beberapa pesawat tempur mengira kapsul itu sebagai bom atau benda berbahaya lainnya. Mereka lantas melepaskan tembakan. Beberapa tembakan tepat mengenai kapsul dan membuat kapsul itu kehilangan keseimbangan. Bagian atas kapsul terbuka. Cahaya menyilaukan kembali memancar dar dalam kapsul. Tiba-tiba kapsul itu meledak dan cahaya putih berpendar dimana-mana. Tepat saat itulah, piring terbang melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata. Hanya sepuluh detik kemudian pesawat piring terbang itu benar-benar lenyap dari pandangan mata.

Yoseob masih tidak percaya dengan penglihatannya, namun suara sibuk helikopter yang mondar-mandir di atas Hutan Dongdae membuatnya sadar bahwa ia harus segera pergi dari tempat itu. Dari tempat persembunyiannya, Yoseob melihat beberapa orang meluncur dengan menggunakan tali dari helikopter. Yoseob mengambil tasnya dan dengan susah payah berdiri. Ia berjalan dengan menompang tubuhnya dari satu pohon ke pohon lainnya.
Yoseob menghentikan gerakannya sebentar untuk mengatur nafas. Suara-suara melalui HT (handy talky) terdengar dari berbagai arah. Yoseob sangat takut sehingga ia tidak memperhatikan langkahnya. Ia menginjak sesuatu, sesuatu itu berdenyit.

Yoseob kaget, tubuhnya terdorong ke belakang sementara kakinya terpeleset. Ia sukses meluncur jatuh ke aliran sungai yang cukup deras. Saat jatuh, tangan Yoseob berusaha meraih sesuatu yang ia kira tasnya. Dari dalam air, Yoseob merasa bahwa yang ia pegang dengan erat bukanlah tasnya. Sesuatu yang juga bergerak meronta-ronta, sama seperti dirinya yang sedang melawan arus sungai tapi ia tidak bisa melihat apa yang ia pegang sementara tubuhnya semakin melemah dan akhirnya tidak sadarkan diri. Genggamannya pun perlahan mulai mengendor kemudian lepas sama sekali.
Tubuh Yoseob tersangkut di akar-akar pepohonan yang tumbuh di pinggiran sungai. Agak lama saat kemudian seseorang dengan menggunakan jubah abu-abu kegelapan menarik tubuhnya ke daratan. Tangan orang itu terlihat sangat halus dan putih bercahaya. Orang berjubah itu menidurkan Yoseob di sebuah batang pohon besar.
Orang berjubah memperhatikan wajah Yoseob yang memar. Tangannya menyentuh dada Yoseob. Perlahan terdengar erangan kesakitan dari bibir Yoseob.

Orang berjubah itu menghentikan gerakannya dengan seketika. Mata Yoseob perlahan terbuka. Orang berjubah terlihat panik. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Ia melihat semak-semak tak jauh dari sebelah kanan Yoseob, dengan segera orang berjubah berlari dan bersembunyi disana. Gerakannya terlambat karena Yoseob sudah melihatnya.

Yoseob menajamkan penglihatannya. Ia tidak berkedip memandangi semak-semak tempat orang berjubah mencoba bersembunyi. Beberapa detik kemudian, dengan perlahan, orang berjubah memperlihatkan wujudnya. Orang berjubah itu memiliki tubuh yang tak lebih kecil dari Yoseob, kepala yang kecil, hidung agak mancung, bibir tebal, dan mata yang memiliki double eyedlid hanya sebelah. Yoseob masih berusaha menahan rasa sakit di dadanya. Orang berjubah berusaha mendekat. Tapi Yoseob kembali terlihat was-was. Orang berjubah mengurungkan niatnya.

“ K..kau…mau…menyelakaiku?” Tanya Yoseob dengan terbata-bata. Ia baru menyadari bibirnya terasa perih saat ia berbicara. Selain itu, pipinya juga terasa agak sakit. Orang berjubah itu terdiam sebentar lalu menatap Yoseob dengan tajam. Yoseob menyadari tatapan orang itu seperti tatapan seseorang yang sedih dan takut dari pada tatapan yang mengancam.

“ K…kau…mencoba menolongku?” Tanya Yoseob lagi. Kali ini tatapan orang berjubah sedikit bercahaya senang. Yoseob mengernyitkan keningnya. Ia mengamati orang berjubah dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Rasa sakit di dadanya kembali terasa. Seraya mengerang.

Tiba-tiba orang berjubah itu sudah berjongkok di depannya dan menggenggam tangannya yang memegangi dada. Yoseob pasrah. Orang berjubah itu lantas memejamkan mata. Yoseob merasa dadanya memanas dan sesuatu yang kosong sedang merasuki tubuhnya. Seperti tubuh yang dihantam semilirnya angin di musim dingin. Tubuh Yoseob menggigil. Giginya bergemerutuk. Hal itu terjadi kurang dari tiga detik.

Tangan orang berjubah lantas beralih ke wajah Yoseob. Kali ini Yoseob merasa wajahnya dicabik-cabik dan terasa perih. Saat tangan orang berjubah beralih ke kaki Yoseob yang terluka karena terpeleset sebelum jatuh ke sungai beberapa waktu yang lalu, Yoseob mencoba merasa wajahnya. Ternyata wajahnya masih utuh, bahkan tidak terasa ada bekas luka seperti yang ia bayangkan tadi. Ia mencoba menggerakkan mulutnya seperti orang yang berlatih vocal. Tidak terasa sakit.

Tepat saat itu, orang berjubah juga telah menyembuhkan luka di kaki kanan Yoseob. Lebih tepatnya tidak ada lagi rasa sakit dan perih dikaki Yoseob meskipun lukanya masih menganga. Orang itu lantas mengambil beberapa daun dan menutupi luka Yoseob dengannya.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Orang berjubah kembali menatap Yoseob. Yoseob menangkap tatapan yang kelelahan namun juga senang di matanya.

“ K..kau siapa?” tanya Yoseob.

Orang berjubah itu berkedip. Kedipannya sangat lambat. “Oh, kau hanya punya double eydlid sebelah.” Gumam Yoseob mengomentari mata orang berjubah.

Tangan orang berjubah lantas menggambarkan sesuatu di udara depan Yoseob. Cahaya keperak-perakan muncul membentuk tulisan. Tulisan yang tak dimengerti oleh Yoseob. “ Apa yang kau tulis?” Tanya Yoseob kembali.

Orang berjubah berkedip pelan lagi. ia lalu meletakkan tangannya di tengkuk Yoseob. “ A..apa yang kau lakukan?” Tanya Yoseob waspada. Tepat saat itu, jari telunjuk Orang berjubah menyentuh ujung tengkuknya dan cahaya keerakan kembali muncul dari ujung telunjuknya.

“ K..Kau bukan makhluk bumi?” Tanya Yoseob terkejut. Orang berjubah itu mengangguk. Ternyata yang ia lakukan adalah menerjemahkan bahasanya ke bahasa yang dimengerti Yoseob.

“ D..dari m..mana kau berasal?” Yoseob kembali bertanya. Orang berjubah itu kembali menulis diawang-awang dan kemudian menyentuh tengkuk Yoseob melalui jari telunjuknya.

“ Kenapa kau tidak bisa mengatakannya? A..apa kau keluar dari pesawat aneh itu?” Yoseob kembali ingat dengan pesawat aneh yang ia lihat. Dengan ragu-ragu, orang berjubah itu mengangguk.

“ Lalu, kenapa kau disini? B..bukankah t..temanmu sudah pergi?” Orang berjubah tidak menuliskan apa pun. Yoseob tersentak saat merasa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

“ Kau tertinggal? A..atau ditinggalkan?” Yoseob mengucapkan kata-katanya dengan hati-hati. Kali ini Orang berjubah kembali menggerakkan tangannya dan kemudian menyentuh tengkuk Yoseob dengan ujung telunjuk.

“ T..terlempar? M..maksudmu, kau tidak sengaja terlempar dari pesawatmu? K..kau.. jangan-jangan di dalam kapsul yang meledak itu?” Kali ini Orang berjubah mengangguk dengan sedih.

Yoseob tidak tahu harus berbuat apa saat Orang berjubah itu meneteskan air mata. Seraya lantas menundukkan kepala. Perlahan tangan Yoseob mengarah ke bahunya dan menepuk-nepuk dengan lembut.

“ M..mereka p..pasti akan kembali untuk menjemputmu.” Hiburnya. Perlahan kepala Orang berjubah mendongak. Matanya mengisyaratkan sebuah harapan dan kepercayaan pada kata-kata Yoseob. “ Meskipun tidak dalam waktu dekat.” Sambung Yoseob.

Saat Yoseob melihat Orang berjubah sudah terlihat lebih tenang, ia segera mengulurkan tangannya. “ Aku… Aku Yoseob, Yang Yoseob, 19 tahun. Aku harap aku lebih tua darimu.” Orang berjubah itu berkedip lalu menatap uluran tangan Yoseob dan kembali melihat padanya.

“I..ini cara makhluk bumi memperkenalkan diri. “ terang Yoseob. Ia lantas teringat pada tembakan-tembakan pasukan udara yang diarahkan pada pesawat piring terbang beberapa waktu yang lalu.

“Maksudku, memperkenalkan diri dengan damai.” Sambungnya. Orang berjubah itu lantas menerima uluran tangan Yoseob.

“ Namamu, siapa?” tanya Yoseob tercekat saat terdengar suara agak gaduh tak jauh dari tempat mereka. Yoseob mencoba mengintip dari balik pohon tempatnya dibaringkan. Yoseob menajamkan penglihatannya. Beberapa cahaya dari lampu senter tampak di sela-sela pepohonan. Yoseob menduga mereka bersenjata karena sayup-sayup terdengar suara benda tajam menebas semak-semak. Mereka mencari sesuatu dan Yoseob tahu apa itu. ia lantas kembali menoleh pada Orang berjubah. Orang berjubah itu hilang.
Yoseob menoleh kesegala penjuru. Tak ada tanda-tanda Orang berjubah itu masih disana. Yoseob berdiri dengan hati-hati. Gerakannya terhenti saat sesuatu mengganjal di belakangnya. Ia menoleh.

Di belakangnya terdapat rongga antara akar satu dengan yang lainnya. Di dalamnya, Orang berjubah duduk dengan gemetar. Yoseob bergerak dengan hati-hati. Ia melepaskan jas sekolahnya dan menyelimutkannya pada Orang berjubah itu. Pandangan Orang berjubah terlihat agak tenang. Yoseob mengumpulkan dedaunan untuk “mengubur” dirinya dan Orang berjubah di bawah goa akar. Suasana terasa mencekam saat para petugas terdengar semakin dekat dengan tempat mereka bersembunyi.

“ 103, 103. Kami menemukan sebuah tas. Diulangi, 103,103, kami menemukan sebuah tas.” Sebuah suara dari HT terdengar diantara sentuhan sesuatu dengan semak-semak.

“ Dimana posisimu, kami akan segera kesana.” Sahut salah seorang dari petugas yang berdiri tak jauh dari pohon yang digunakan Yoseob dan si alien bersembunyi . Tak lama kemudian, terdengar suara langkah menjauh dan tempat itu kembali lengang. Yoseob menajamkan pendengarannya. Setelah ia yakin keadaan aman, ia berceletuk. “ Itu pasti tasku.”

Yoseob menoleh pada Orang berjubah. “ Aku baru ingat ada PR Matematika. Sepertinya aku harus membeli buku baru.” Orang berjubah itu terlihat tersenyum. Yoseob terkejut. “ Oh, kau bisa tersenyum.”

“ SIAPA DISANA??”

Suara langkah tergesa-gesa terdengar dari luar goa akar. Yoseob terkejut, begitu pula dengan si Orang berjubah. Tanpa pikir panjang, Yoseob menarik lengan Orang berjubah dan lari.

“ JANGAN LARI!!” Seru petugas yang membentak tadi. Ia segera melaporkannya pada teman-temannya. Entah karena Orang berjubah tidak memiliki berat badan atau karena mereka bisa berlari diatas udara, Yoseob merasa ia yang dibawa lari oleh Orang berjubah. Perlahan, tubuh Yoseob terasa ringan sehingga larinya semakin cepat. Samar-samar ia mendengar suara petugas yang berdebat dengan rogernya apakah ia boleh menembak atau tidak karena makhluk itu terlihat melayang. Hanya beberapa detik setelah itu, terdengar suara tembakan. Yoseob merasa ada bagian tubuhnya yang dialiri sesuatu yang hangat. Itu adalah darahnya. Ia tertembak.
Antara setengah sadar, Yoseob masih bisa mendengar teriakan petugas yang menembaknya.

“ Alien itu tertembak!!” Yoseob pun kembali tidak sadar. Orang berjubah menarik tubuh Yoseob ke punggungnya dan kembali berlari. Hanya hitungan kurang dari sepuluh detik, petugas itu kehilangan jejak mereka berdua.

Next part

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s