Komidi Putar Part 3 (Cherish That Person)

Sejak pengumuman peran beberapa hari yang lalu, setiap malam kamis, jumat dan sabtu menjadi agenda rutin bagiku untuk mengunjungi ruang latihan Red Carpet. Ini sudah minggu kedua kami berlatih, ternyata menjadi seorang aktris itu tidak gampang. Sedikit saja kesalahan bisa menjadi bahan omelan Sutradara.

“Gugun, meskipun lo cuma sebagai penjual sayur yang munculnya cuma satu kali, lo tetap harus memperhatikan dialog, ekspresi dan bahasa tubuh. Jangan kaku. Ini sudah latihan yang ketiga. Lebih konsentrasi.”

Gugun mendapat tempat kedua sebagai orang yang sering ditegur sang sutradara. Setelah aku tentunya.

“Lo udah melakukan apa yang gue minta?” tanya Rian padaku. Aku hanya melongo. Rian menghela nafas.

“Lo udah mengamati gerak gerik kucing yang gue pinjamin ?” Rian menatap wajahku lebih dalam. Ekspresi orang yang sedang menahan emosi.

“Udah. “ jawabku datar.

“Jadi, apa yang lo dapatkan dari pengamatan itu?” tanyanya lagi. Aku berpikir sebentar.

“Kucing yang pemalas. Kerjaannya cuma tidur dan makan. Hm, dia hanya bersuara jika lapar dan diam saja kalau sudah kenyang.” Jawabku dengan sungguh-sungguh. “Bukannya dari tadi gue udah akting jadi pemalas?” tanyaku dengan polos.

“Lo bukannya akting jadi pemalas tapi pemalas akting.” Celetuk Rian diikuti tawa oleh yang lainnya. Cowok itu lantas berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekatiku.

“Kucing itu memang binatang yang pemalas, tapi ada sifat yang unik kalau lo mau memperhatikan lebih teliti lagi.” Rian bersedekap tangan di depanku. “Lo tau apa itu?” aku berusaha mengingat kelakuan si manis. Sok imut, mengganggu, bertingkah kalau tidak ada yang memperhatikan, dan menyebalkan. Kalau dipikir-pikir, mirip orang di depanku ini.

“Imut dan lucu,” jawabku sambil tersenyum, pura-pura. “Jadi aku harus akting imut dan lucu?” Rian mendekatkan wajahnya ke wajahku, senyumku memudar.

“Kucing itu penuh taktik, cerdas, dan selalu percaya diri. Karena itu memiliki kesan angkuh dan tak tersentuh. Kamu tahu maksudnya?” katanya lirih dan dalam. Aku menebak hanya aku dan dia yang bisa dengar. Aku berpikir lagi. Rian tersenyum tipis dan kembali ke singgasananya. “Ok, kita ulang lagi. Setelah ini kita lanjut ke babak lima” Serunya.

Akhirnya latihan berakhir, aku mengambil botol minuman dari dalam tas. Gugun mengikuti dari belakang. Setelah meneguk minumanku, aku menoleh. “ Kenapa?” tanyaku.

“Gue lupa bawa minum, boleh minta? Sedikit aja.” Jawabnya. Aku segera menyodorkan botol minumanku. Dan hanya hitungan detik, air minumku habis. “Gun, kok dihabisin?” protesku. Gugun cengar-cengir. “Maaf,” aku cemberut. “Aku antar pulang deh sebagai gantinya. Kebetulan aku bawa motor.” Katanya. “Beneran ?” seruku senang. Asyik, aku bisa hemat ongkos. Gugun mengangguk meyakinkan. “Oke!” sambutku.

Aku menunggu Gugun yang sedang mengambil motor di tempat parkir. Satu per satu anak-anak Red Carpet sudah pulang. Mereka menyapaku, aku membalas sapaan mereka sambil tersenyum. “Hei, kamu nggak pulang?” sebuah suara menyapaku dari belakang. Aku menoleh.

“Oh, ng…. iya, aku bareng Gugun.” Jawabku tergagap ketika tahu yang menyapaku adalah Yoga. Dibanding Rian, Yoga lebih pendiam dan sedikit terlihat misterius. Tapi seratus kali lebih baik dari sang ketua. Dibelakang Yoga ada Rian dan Haira. Mataku dan mata Haira bertemu, aku tersenyum. Ia hanya membalas sekilas dan kembali berbicara dengan Rian.

“Heh, lo belum pulang? Ada yang jemput atau pulang sendiri?” tanya Rian padaku. Haira tampak sedikit kecewa karena diacuhkan. Atau mungkin tebakanku salah.

“Gue bareng Gugun. Dia sedang di parkiran.” Jawabku. Rian mengangguk-angguk.

“Rian, apa lo mau langsung pulang? Kita kan searah, jadi lo bisa ikut mobil gue.” Kata Haira.

“Wah, benarkah? Ok. Oh ya, lo jadi mau ke rumah gue? Kita barengan aja. ” Rian mengajak Yoga. Aku melihat raut tidak setuju dari wajah Haira. Ah, bukan urusanku. Aku menoleh ke arah parkiran kalau-kalau Gugun sudah muncul. Lama banget sih!

“Ah, masih ada yang harus gue kerjakan. Nanti gue hubungi lo lagi.” Kata Yoga. Sekali lagi Rian cuma mengangguk-angguk. “Ok. “ katanya sambil menepuk bahu Yoga, “Gue duluan ya.” Rian dan Haira lantas berjalan menuju tempat parkir.

“Haira,” panggilku. Mereka menoleh.

“Ya?”

“Hm, kalau kalian ketemu Gugun, tolong suruh dia lebih cepat kesini ya.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa lo nggak menyusul kesana?” Celetuk Rian, tanpa komando mereka lantas berbalik. Aku melongo.

“Rian memang seperti itu. Suka asal bicara. Jangan masukin ke hati.” Aku menoleh pada Yoga, “Eh, iya.” Ternyata orang ini tidak sesombong tampangnya.

“Kamu baru kali ini akting ya?” tanya Yoga sambil memperbaiki letak tasnya.

“Iya, makanya aku nggak begitu jago. Lagian ini juga pertama kalinya aku ikut klub drama.” Jawabku.

“Sebelumnya kamu ikut klub apa?” Yoga duduk di bangku teras sambil memperbaiki ikatan tali sepatu.

“Klub cooking.” Jawabku bangga.

“Kamu suka masak?”

“Tepatnya aku nggak bisa masak. Karena di sekolah kita ada klub ini ya udah aku masuk aja. “ tuturku. Yoga tersenyum mendengar jawabanku. Wah, senyumnya manis juga.

“Kenapa nggak diterusin?”

“Karena ternyata aku lebih suka makan daripada masak.” Candaku sambil tertawa, Yoga tertawa. Tak lama kemudian Gugun muncul sambil menuntun motor bebek kesayangannya.

“Gun, lama sekali. Itu motornya kenapa di tuntun?” tanyaku. Gugun menyeka keringat di dahinya. “Rhe,maaf motor gue mogok. Kita cari bengkel dulu ya.” Kata Gugun dengan polos.

“Terus pulangnya?” tanyaku dengan was-was.

“Kali ini naik bis bareng aja ya?” bujuk Gugun dengan wajah memelas. Semangatku turun, berarti harus mengeluarkan ongkos lagi.

“Ya udah kalau begitu. Eh, Yoga. Duluan ya!” seruku.

“Ok.”

Aku dan Gugun duduk di bis. Malam ini penumpang agak sepi, “Rhe, kok lo bisa akrab sama Yoga? Gue baru tahu.” Kata Gugun sambil mengeluarkan cokelat dari dalam tasnya dan menyodorkannya padaku tapi urung, “kenapa nggak jadi?” tanyaku heran melihat kelakuannya. “Biasanya cewek nggak makan kalau udah lebih dari jam 9 malam. Takut gendut, iya kan?” celetuk Gugun. Aku merebut cokelat dari tangan Gugun,”tapi aku mulai makan lagi setelah jam 10 malam.” Jawabku lalu memakan cokelat milik Gugun. Kami saling berpandangan lalu meledaklah tawa hingga beberapa penumpang merasa terusik. “Sstt..” kami langsung memasang wajah penyesalan dan minta maaf.

“Eh, lo belum jawab pertanyaan gue.” Gugun mengembalikan topik pembicaraan. Aku membuka bungkus cokelat dan memakannya. “Gue gak deket kok sama Yoga. Dia yang menyapa gue duluan. “ Jawabku. Gugun menatapku,”lo tahu kan kalo Yoga itu suka sama Haira?” Aku mengangkat bahu. “Lo gak tahu?” tanya Gugun lagi setengah tak percaya. Cuma setengah.

“Gak, lagian kenapa sih lo kasih tahu gue? Itu kan bukan urusan kita.” Celetukku tanpa menoleh pada Gugun. “Tapi itu urusan gue, “ timpal Gugun penuh semangat. Kali ini aku menoleh pada si tambun itu.

“Kenapa jadi urusan lo?” tanyaku sambil mengerutkan dahi. Gugun menunduk perlahan dan tidak langsung menjawab. Aku berusaha menebak-nebak.” Lo suka Haira, ya?” tebakku. Gugun mengangguk. Aku tergelak melihat kelakuannya.

“Gugun, gugun, mimpi lo terlalu tinggi.” Nasihatku sambil meremehkan. Gugun menatap mataku dalam. Aku lantas menghentikan tawa. “Tapi gak ada larangan kok untuk suka sama siapa.” Sambungku kemudian demi menghindari kemarahannya.

“Benarkan? Jadi gak masalah kalau gue suka sama Haira?” serunya dengan semangat. Alhasil kami ditegur oleh penumpang bus untuk kedua kalinya. Kami pun berusaha menahan keinginan untuk berisik.

“Gak masalah asalkan lo gak bilang ke orangnya.” Bisikku.

“Kenapa?”

“Saolanya itu sangat berpotensi untuk buat lo patah hati.” Jawabku dengan wajah tega.

“Seberapa besar potensinya?” tanya Gugun lagi.

“99,99%.” Jawabku mantab. Wajah Gugun lesu dengan tiba-tiba. Aku segera menambahkan, “tapi masih ada 0,01% kemunginan positif kok.” Wajahnya kembali cerah. Dasar cowok ekspresif, kataku dalam hati.

“Trus, inti dari pembicaraan kita apa nih?” kataku kemudian tidak sabar. Gugun terlihat ragu-ragu mengungkapkan maksud hatinya. “Hm, gue lihat tadi lo dan Yoga cocok. Gue minta lo bantuin gue. “

Aku kembali mengernyitkan dahi, “bantuin gimana? Jangan bilang gue harus memisahkan mereka berdua, gue gak mau! Lo kira gue sekejam Tuan takur, menghalangi cinta seseorang pada sang pujaan hati. Gak mau!” tolakku mentah-mentah.

“Bukan itu maksud gue, gue cuma mau minta tolong lo cari tahu tentang perasaan Yoga kepada Haira. Kalau ternyata cintanya Haira bertepuk sebelah tangan, gue kan masih punya kesempatan buat menaklukan hati Haira.” Jelas Gugun terbata-bata. Aku berpikir sejenak. Oh, kalau hanya menjadi detektif dadakan seperti ini tidak masalah, pikirku. Akhirnya aku menyanggupi permintaan sahabatku satu-satunya didunia teater yang gembul ini. Tapi jika dipikir-pikir, sepertinya Haira justru terlihat tertarik pada Rian daripada Yoga, tapi siapa tahu itu hanya taktik untuk membuat Yoga cemburu, atau justru taktik untuk membuat Gugun cemburu? Tidak mungkin.

Aku akan memikirkannya nanti setelah makan malam tahap kedua dan tidur demi sahabatku yang naif ini akan aku lakukan apa yang ia minta. Bukankah kita hidup harus saling tolong menolong? Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu agar aku bisa menyelesaikan kasus ini tanpa kendala. Amin.

Next part 4 : Song for Guy

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s