Komidi Putar Part 2 (One of A Kind)

Aku berjalan menuju basecamp “Red Carpet”. Hari ini ada pemilihan peran untuk tampil di acara University Festival Of Year. Berdasarkan kabar terakhir yang beredar di kampus, akan ada beberapa kategori yang diperlombakan, salah satunya adalah teater. Siapa saja yang bergabung dalam klub teater tentu sangat berharap mereka bisa tampil di suatu event bergengsi. Begitu juga denganku.

Aku mampir sebentar ke toilet. Paling tidak aku harus memperbaiki dandananku untuk mendukung agar aku bisa terpilih nanti. Meskipun aku yang sekarang tidak jauh berbeda setelah aku dandan. Paling tidak aku harus memoles bedak lagi.

Aku membuka pintu toilet dan …..

“Aaaaaaaaa…..”

“Aaaaaaaaa…..”

Ini toilet cowok??

Aku bergegas melihat papan nama di pintu. Sial! Untittle.

“Kok lo disini? Ini kan toilet cewek!” aku pura-pura tahu bahwa itu adalah toilet perempuan. Si cowok itu pun memeriksa papan nama di pintu toilet.

“Gak ada tulisannya.” Kilahnya tidak mau mengalah.

“Heh! Tapi ini kan biasa dipake cewek!”

“Tapi kan gak ada papan namanya.” Ia tidak mau mengalah.

Aku bergegas mendorong cowok itu keluar. “ Hey, lo ngapain? “ seru cowok itu. “Keluar!” seruku membalas seruannya. “Apa?”

Aku segera menutup pintu lalu menghela nafas. “ Memalukan banget! Masa dia nggak tahu kalau ini sering digunain cewek? Kayaknya dia sengaja. Dasar maniak!” gerutuku kesal sambil meletakkan tas ke sisi westafel. Aku membasuh wajahku berkali-kali. “ Dasar orang aneh! Awas aja kalau ketemu lagi. “ aku mengelap wajah dengan kain. “ Kayaknya aku pernah lihat dia. dimana ya?” Aku berusaha mengingat. “Ah. Orang kayak begitu pasti banyak, sampai-sampai aku nggak bisa ingat dimana pernah ketemu maniak kayak dia. “ aku segera keluar dari toilet, takut kalau-kalau maniak lain datang lagi.

Ketika aku tiba di basecamp, disana sudah ada hampir seluruh anggota “Red Carpet”. “Rhea!” Gugun memanggilku. Dia adalah satu-satunya teman sekelasku yang juga tergabung dalam klub ini. “Ok, seperti yang teman-teman tahu. Kampus kita akan mengadakan festival, salah satu lomba yang diadakan adalah teater. Perlombaan ini terbuka untuk semua klub teater di kampus ini. Hadiahnya adalah Liburan ke Lombok selama tiga hari. Karena itu, ayo kita ikut berpartisipasi dan melakukan yang terbaik dalam pementasan kali ini.” Kata-kata pembuka dari Yoga disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

“Kalau menang, kita semua bisa liburan gratis ke Lombok!” Seru Gugun.

“Nggak semua, tapi hanya tim teater yang terpilih nanti.” Yoga mematahkan semangatku dan Gugun.

“Pemilihan?” Tanya Gugun. Ia lantas menoleh padaku. Aku mengangguk, “ Semacam casting untuk para pemeran dan staf lainnya.” Jawabku. “Berapa orang yang diperlukan?” Tanya Lastri, gadis berkerudung dari Lamongan.

“Kita sudah punya naskah yang akan dipakai. “ Aku sedikit kecewa mendengarnya. Padahal aku berniat menyumbang ide untuk menulis naskah kali ini, karena untuk akting, aku tidak begitu bagus.

“ Untuk aktor dan aktrisnya, kita membutuhkan tiga pemeran cowok dan dua pemeran cewek. Selain itu juga ada enam orang sebagai tim lighting, peralatan dekorasi dan musik, costum, make up, dan penulis naskah. Penulis naskah sudah terpilih yakni Haira Christine. Jadi sisa totalnya ada sebelas orang.” Sekali lagi tepukan riuh dan ramai menyambut pengumuman Yoga. Anggota klub ada dua puluh satu orang. Masih ada harapan untuk berpartisipasi, meskipun bukan sebagai aktris atau penulis naskah.

“Dan kali ini, anggota tim yang akan ikut dalam pementasan kali ini akan dipilih langsung oleh ketua kita. Adrian.” Kami kembali bertepuk tangan menyambut ketua klub yang belum pernah kami lihat secara langsung. Hanya pengurus inti dan manajer klub yang selalu berhubungan dengan sang ketua. Sedangkan “anak bawang” seperti kami kebanyakan belum pernah bertemu dengannya. Bukan apa-apa. Selain karena kami adalah anggota baru, kabarnya ia adalah mahasiswa berprestasi yang sering diundang dalam ajang internasional di dalam dan diluar negeri. Bagi kami, ia sudah memiliki setengah dari kesibukan Pak Rektor kampus ini.

Seseorang keluar dari ruangan kerja pengurus inti. Atmosfer Boys Before Flowers terasa dalam ruangan ini. Hampir semua orang terkejut melihat seperti apa rupa sang ketua. Sebagian besar adalah ekspresi kagum. Aku juga terkejut. Bukan karena orang itu tampan dan aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi karena aku sudah pernah bertemu dengannya dan terlibat dalam sebuah kekacauan sebelumnya. Dia maniak itu!

“Malam semuanya. Akhirnya gue bisa berkumpul disini lagi dengan teman-teman semua. Ok, kita langsung mulai saja casting untuk pementasan kali ini.”

Tak lama kemudian, proses casting pun dimulai. Sepanjang proses casting, aku berusaha untuk menghindar dari pandangan ketua klub. Sepertinya kesempatanku untuk ikut dalam pementasan kali ini hilang sudah.

“Hei, yang disana! Maju.” Panglima teater itu menunjuk kearahku. Gubrak!

“Coba perhatikan akting gue, setelah itu coba lo akting seperti yang gue peragain.” Deg. Kemudian dia dengan seenak jidatnya berakting di toilet dan tiba-tiba teriak. Persis seperti kejadian salah masuk toilet. Mungkin teman-temanku yang lain akan mengira bahwa ia berakting masuk toilet dan melihat setan, kuntilanak, pocong, buto ijo, atau apalah itu. Tapi aku sangat yakin bahwa dia sedang mengejekku.

Dengan ragu-ragu aku melangkah maju. Aku melirik ke ketua klub yang tampan tapi menyebalkan itu. Dia menarik ujung bibirnya, tersenyum mengejek. Aku berusaha berkonsentrasi di tengah lingkaran ditatap puluhan mata yang sudah tidak sabar melihat aktingku. Satu detik, dua detik, tiga detik…

“Aaaaaa…..uh..ukh..”

Aku berteriak sekuat tenaga. Maksud hati hendak mengeluarkan kekesalan. Tapi ada daya suaraku tertahan diakhir dan terbatuk-batuk. Bukan tepuk tangan yang aku dapatkan. Mereka tertawa. Suaraku lebih terdengar seperti kucing keselek tulang ikan kembung. Terlebih makhluk sok ganteng yang berdiri dengan gaya Cassanova itu menunjukan wajah yang penuh dengan tanda kepuasan.

“ Nama lo siapa?” tanyanya mendekat.

“ Rhea.” Jawabku singkat.

“Siapa? Lea? Merk jeans” Tawa ringan kembali terdengar diseantero ruangan. Orang ini budeg atau sengaja menggodaku?

“ R-H-E-A.” Aku melafalkan dengan pelan dan jelas. Dia berlagak masa bodoh. “Ok, Rhea. Akting lo cukup meyakinkan. Lo memudahkan gue untuk menentukan salah satu tokoh di pementasan kita nanti.”

Aku dapat peran? Oh God! Aku tarik semua kekesalanku pada orang ini. Ia benar-benar tampan dan baik hati.

“ Lo berperan sebagai asisten penyihir.” Gubrak!

Asisten penyihir? Dia bilang asisten penyihir? Dia memberiku peran sebagai asisten penyihir? Aku berusaha mencari kesungguhan dalam sinaran matanya yang bening. Tak ada dusta dan keraguan disana. Yakin. Yah, itu tatapan keyakinan yang kuat. Sekuat sinyal indosat (maaf iklan).

Bocah ini dengan yakin menyuruhku berperan sebagai kucing hitam? Ini keterlaluan. Penulis naskahnya juga keterlaluan. Mana mungkin ada tokoh kucing? Memangnya ini film catwoman? Penulis naskah pementasan kali ini adalah temanku dari SD. Mungkin dia bisa mengganti tokoh asisten penyihir. Jangan kucing.

“Tadinya gue mau masukin burung gagak hitam. Lo nggak keberatan jadi gagak hitam? Susah loh terbang kesana kemari pake tali.” Jawab Haira ketika aku minta tokoh kucing diganti menjadi manusia bodoh saja. Yah, manusia bodoh pun tak apa-apa. Manusia cacat mental, buta, tuli, pincang, jelek, atau apalah itu yang penting bukan menjadi binatang. Siapa yang akan membicarakan akting kucing? Setelah pementasan, biasanya orang-orang akan membicarakan empat tokoh. Peran utama, tokoh antagonis, tokoh yang menghibur, dan tokoh yang paling sial. Tidak ada pembicaraan mengenai tokoh pembantu penjahat. Apalagi kucing hitam.

“Ok. Mulai sekarang, masing-masing pelajari dan pahami karakter tokoh yang yang kalian perankan. Pahami ceritanya, hafalkan dialognya dan pertemuan berikutnya kita akan mulai latihan.” Klub teater pun bubar. Ketika akan keluar dari ruangan, si Tuan Cassanova itu memanggilku.

“Apa lo punya kucing di rumah?” tanyanya. Aku menatapnya tidak mengerti. Lalu menggeleng. “ Kalau begitu besok sepulang sekolah ikut gue. “ Setelah berkata seperti itu, Cassanova itu berlalu. Ketemuan? Ikut dia? ada apa ya? Aku mengangkat bahu. Besok juga pasti akan tahu.

Sepulang sekolah, aku menunggu Rian di depan gerbang. Satu per satu temanku melambaikan tangan dan menyapa,”duluan ya!” Aku hanya tersenyum. Dan sekolah pun sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya dentang jam gadang di depan ruangan majelis guru yang menandakan bahwa aku masih berkaitan dengan waktu dan itu berarti aku masih ada di dunia tempat orang-orang berkeliaran membunuh waktu. Begitu juga dengan aku. Jika aku bisa, aku ingin mematikan waktu sehingga tidak ada rasa terlalu lama menunggu.

Jangan-jangan Cassanova usil itu lupa ada janji denganku? Kalau memang begitu, apa yang aku lakukan sendirian seperti orang bodoh disini? Setelah menimbang-nimbang dengan penuh pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan persemayaman satu jamku. Tepat saat aku melangkah pergi, seseorang muncul di depanku dengan nafas terengah-engah.

“Gue kira lo udah pergi. Ternyata lo setia juga nungguin gue.” Kata si Cassanova itu sambil mengatur nafasnya.

“Heh, meskipun lo ketua, lo nggak bisa seenaknya saja menyuruh orang lain untuk menunggu lo. Kalau lo nggak bisa menepati janji dan datang tepat waktu, jangan bikin janji. Lo tahu? Gue udah nunggu satu jam disini! Gue kira mahasiswa berprestasi itu orang yang disiplin dan menghargai waktu. Tapi ternyata lo malah dengan seenaknya bikin gue menunggu nggak jelas lebih dari satu jam disini seperti orang bodoh!” Aku mengeluarkan kekesalanku satu jam yang tertahan.

“ Gue cuma bilang kita ketemuan sepulang sekolah. Tapi gue nggak bilang jam berapa. Jadi gue nggak bisa dibilang telat juga dong.” Orang ini masih membela diri? Oh God!

“Lagi pula, lo kan nggak tahu kenapa gue nggak langsung datang begitu bel bubaran sekolah. Gue harus cari sesuatu buat lo.” Timpal Rian lagi. Telingaku terpasang. Sesuatu untukku? Jangan-jangan tadi dia mencari kado, bingkisan, atau mungkin seikat bunga mawar seperti di film-film romantis ketika akan bertemu dengan seorang gadis pujaan hatinya. Aih! Apa si Cassanova ini anak tukang jual gas, dia membuat pikiranku melayang-layang dan dadaku terisi penuh helium sehingga dunia terasa tanpa gravitasi. Hanya ada gravitasi antara si Cassanova dan aku.

“Ini.” Rian mengeluarkan sesuatu dari karung kecil yang dipegangnya dari tadi. Berapa ikat bunga mawar ya sampai dikarungi begitu? Tiba-tiba wajahku pias begitu melihat apa yang dibawa orang ini. “Meong,” sapa makhluk kecil mungil menggemaskan.

“Lo bilang kalau di rumah lo nggak ada kucing. Gue pikir, lo pasti kesulitan mendalami tokoh asisten penyihir kalau di rumah lo nggak ada kucing. Jadi tadi gue cari kucing dulu. Karena harus kucing hitam, gue jadi agak kesulitan untuk mendapatkannya. Tapi, so far, berhasil gue dapatin dari nenek teman gue.”

Aku tidak tahu harus senang atau sedih, harus berterima kasih atau marah ketika menerima kucing hitam dari sang ketua itu. Aku hanya meringis. Tak jelas kecewa atau menyembunyikan kekecewaan.

“Ha ha ha… Jadi dia kasih kucing hitam buat dijadiin objek supaya lo bisa lebih mendalami karakter asisten penyihir?” Moza bertanya dengan ekspresi wajah tidak percaya. Aku hanya mengangguk sambil memandangi kucing hitam yang langsung nyaman di pangkuanku.

“Paling nggak lo bisa ambil sisi positifnya.” Ungkap Nina sambil mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.

“Apa sisi positifnya?” tanyaku kesal.

“ Masa lo nggak tahu? Di sekolah kita, banyak cewek yang suka dia dan berusaha supaya dapat sesuatu dari tuh cowok. Tapi kenyataannya? Dia justru memberi lo sesuatu. Itu kan spesial!” benar juga apa yang dikatakan Nina. Tapi aku tidak pernah menonton adegan seperti ini disebut romantis di film-film. Sutradara memberi seekor kucing hitam agar si pelakon bisa memahami perannya sebagai kucing hitam dengan sangat baik sama dengan romantisme. Dimana sisi romantisnya?

“Kenapa itu dianggap romantis sementara antara gue dan dia tidak ada ketertarikan sama sekali. “ tukasku mematahkan pendapat Nina. Nina berpikir sebentar. Hanya sebentar.

“ Kalau ketertarikan dia ke lo gue juga nggak yakin. Mungkin dia benar-benar cuma ingin membantu lo mendalami peran. Tapi masa lo sama sekali nggak ada ketertarikan kepada orang itu?” pancing Nina. Aku menarik nafas. Menghembuskannya. Memisahkan si hitam dari pangkuanku, dan dengan tegas menatap Nina dan Moza bergantian. “Gue bahkan baru tahu siapa dia.”

“Setelah lo tahu, lo tertarik kan sama Rian?” Goda Moza. Aku teringat sesuatu. “ Ah! Aku baru ingat. Ternyata orang yang aku temui di swalayan dan di toilet itu dia.” Moza dan Nina terlihat tidak mengerti. Aku lantas menceritakan kejadian yang aku alami beberapa waktu belakangan ini serta mimpiku semalam.

“Lo bahkan mimpiin dia?” Moza terlihat terkejut. Aku mengangguk. “Aku baru ingat wajah itu yang muncul dimimpiku semalam.”

“Wah, kayaknya lo kena virus love at first sight.” Ejek Nina. Aku berusaha membantah. “jangan berfikir yang aneh-aneh.” Kataku lalu meninggalkan mereka.

“Mau kemana?”

“Kasih makan si hitam.” Jawabku tanpa menoleh.

“Oh, mau mengurus pemberian pertama pangeran impian.” Aku berusaha tidak menggubris mereka.

Next part 3

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s