Komidi Putar Part 1 (Awal Yang Indah)

Hai, perkenalkan namaku Rhea, secara fisik aku tidak terlalu buruk. Paling tidak dengan kulitku yang hitam manis , tinggi 155 cm , rambut sebahu, lurus, hitam, dan halus jadi singkatnya aku seorang cewek umur 20 tahun yang cukup menarik jika diperhatikan lebih lama.
Tanpa berkedip dan dalam pencahayaan di petang hari. Kepribadianku dinilai aneh oleh teman-temanku, diumur yang sudah cukup tua untuk ukuran anak remaja aku belum pernah terlibat dalam hubungan pacaran dengan satu orang cowok pun, lebih parahnya lagi aku masih memandang bahwa itu semua tidak penting sementara beberapa temanku sudah ada yang menikah. Sindrom menikah muda. But, it’s my life and life is gone again without a boyfriend. Setidaknya untuk beberapa waktu ini.

“Rhea, antarin mama ke swalayan!” jemari indahku yang gembul berhenti mengetik.

“Sama Mas Heru aja Ma,” aku balas berseru dari dalam kamar. Tak lama kemudian teriakan mama terdengar.

“Mas Heru sedang ada tamu!”

Aku kembali membalas teriak,” tamunya suruh pulang aja!”

“Tamunya nggak mau pulang!”

“Paksa aja, Ma! Bertamu kan nggak boleh merepotkan pemilik rumah!”

“terus kalau tetap nggak mau pulang?”

“Seret aja Ma!”

“Mama lebih suka menyeret kamu sekarang!”Mama kembali berteriak, kali ini lebih keras. Kalau saja di rumahku tidak ada alat peredam suara maka suara mama akan terdengar hingga ke swalayan di ujung blok disamping SPBU yang baru dalam masa perbaikan karena kebakaran beberapa minggu yang lalu akibat kembang api malam tahun baru yang berjarak lima meter dari lokasi.

Aku segera menoleh ke pintu kamar. Mama berdiri dengan berkacak pinggang. “Antar Mama sekarang!”

Inilah pekerjaan sehari-hariku. Jika tidak di depan komputer mengetik beberapa naskah yang kebanyakan hanya menjadi koleksi pribadi dan membantu Mama di dapur, selebihnya adalah kuliah. Di kampus, aku tidak begitu aktif. Hal tersebut dikarenakan syarat perlu untuk menjadi aktif di kampus tidak aku miliki yakni rajin datang rapat. Satu-satunya kegiatan kampus yang mau menampungku hanyalah klub teater “Red Carpet”. Itu pun setelah aku dicasting akting jadi patung Liberty selama satu jam di depan basecamp “Red Carpet”.

Aku mendorong trolli mengikuti Mama mengelilingi swalayan. Dengan bosan tentunya. Hei, ada kotak makanan lucu! Aku segera mendekati rak. Tepat saat tanganku hendak meraih kotak makanan berwarna hijau dengan tulisan “more eat make happy”, sebuah uluran tangan muncul dari sampingku. Aku segera menoleh. Begitu juga dengan orang itu. Glek.

Sepertinya aku kenal orang ini. Siapa ya? Aku berusaha mengingat cowok yang berdiri disampingku dengan tangan masih terjulur ke rak kotak makanan. Demikian juga dengan cowok itu. Ia memandangiku seperti aku memandangnya. Aku berusaha mengingat wajah cowok itu. Tapi hingga beberapa menit kemudian aku masih tak dapat mengingat wajah siapa itu.

“Rhea! Mana trollinya? Mama keberatan nih!” Aku tersadar dari lamunan panjang dan segera mengalihkan pandanganku dari cowok itu serta melupakan kotak makanan lucu. Tanpa menunggu waktu, aku segera menemui Mama.

“Itu siapa?” tanya Mama penasaran.

Aku hanya mengangkat bahu, “nggak kenal kenapa pandang-pandangan begitu? Ora elok!” jawa Mama keluar.

“Nggak sengaja, Ma. Kaget aja.” Alasanku.

“Kaget kok pandang-pandangan.” Gerutu Mama, beliau lantas melanjutkan memilih barang. “Belum kelar, Ma? Buruan, dong.” Rengekku sambil mencuri pandang ke arah cowok kotak makanan tadi. Lumayan ganteng. Hidungnya mancung seperti Pinokio, kulitnya putih. Berbeda jauh dengan warna kulitku. Cowok itu menoleh. Aku segera mengalihkan pandangan. Glek. Ketahuan.

Malam ini aku kedatangan beberapa tamu istimewa dengan maksud dan tujuan yang istimewa juga. Gina, Moza, dan Nina. Ketiganya khusus datang dan bermalam dikamarku yang sempit ini dengan tujuan yang sama. Curhat.

“Iya, terus nanti selama di Semarang yang bakal menemani gue kemana-mana itu Mas Erwin. Dia itu orangnya baik banget. Dia seorang Motivation Training.” Cerita Gina dengan hati yang berbunga-bunga.

“Jadi lo udah suka sama Mas Erwin sejak SMA? Sampai sekarang? Dia juga suka sama lo?” tanya Nina sambil menyisir poninya yang sudah menutupi mata.

“Kalau itu gue nggak tahu. Tapi kemaren gue ngobrol sama temen dia, katanya Mas Erwin dulu sering tanya-tanya tentang gue ke temen-temen SMA gue. “ Wajah Gina memerah karena malu. Aku, Nina, dan Moza langsung menyorakinya.

“Selamat, ya! Mudah-mudahan feeling lo tentang dia bener.” Kata Moza.

“Jadi, kapan nih ke Semarang?” tanya Nina, kali ini ia sedang memasang roll rambut.

“Lusa. Gue bakal ketemu sama Iman Usman yang dari Indonesian Future Leader juga.” Jawab Gina dengan bahagia.

“Emang itu acara apaan?” tanyaku sambil mencomot pisang goreng buatan Mama.

“Acara Future Leader Summit 2011.” Ini dia calon aktivis dan pemimpin masa depan yang jelas tujuan hidupnya.

“Kayaknya Gina bakal mencalonkan diri jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan tahun 2014.” Semua tertawa mendengar ejekan Moza.

“Heh, kalau bukan kita yang menyiapkan diri dari sekarang buat memimpin negeri ini, siapa lagi?” Balas Gina.

“ Lo!!” seruku, Moza, dan Nina.

Tiba-tiba Handphone Nina berdering. Beberapa detik kemudian, Nina sudah menjerit kegirangan.

“Kakak Kelas gue sms.” Serunya. Aku, Gina, dan Moza hanya melongo tidak mengerti.

“Kakak kelas gue! Yang gue taksir akhirnya sms gue.” Seperti sudah disetting demikian, kami bertiga yang tadinya melongo tidak jelas kembali bersorak senang.

“Wah, selamat ya!”

Sedetik kemudian, Nina sudah sibuk dengan sms-nya. Moza mengambil sesuatu dari tasnya.. “Teman-teman, ini ada undangan.” Katanya sambil mengacungkan selembar undangan. “Undangan apa tuh, Moz?” tanyaku sambil meraih undangan yang dipegang Moza.

Aku, Gina, dan Nina segera berkumpul untuk membaca isi undangan. Begitu selesai membaca maksud undangan itu, aku segera menoleh pada Moza. “Ini beneran, Moz?” Moza mengangguk. Nina kurang yakin. “ Lo nggak becanda?” Moza menggeleng pasti. “ Lo bakal punya keluarga baru?” tanya Gina. Moza mendekat.

“Iya, gue bakal punya keluarga baru, bokap baru, saudara baru, dan rumah baru!” bisiknya. Dan lagi-lagi kami berempat bersorak kegirangan.

“Selamat ya!”

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan kasar. Mas Heru berdiri dengan telinga disumbat kapas dan wajah kesal.

“Curhatnya nggak bisa tanpa ribut? Mas sedang banyak tugas.” Kami berempat cuma senyum-senyum.

Esok paginya aku terbangun dengan keadaan linglung. Mungkin karena terlalu banyak kabar gembira yang dialami teman-temanku sehingga semalam bisa mimpi indah. Namun ada sedikit berbeda. Seseorang yang tidak begitu kukenal muncul dalam mimpiku. Aku berusaha mengingat siapa orang itu. Beberapa detik kemudian baru aku sadari orang itu adalah cowok yang kemarin bertemu di Swalayan. Keningku berkerut. Kenapa aku bisa bermimpi tentang orang itu? Aku tidak begitu ingat apa yang aku mimpikan, hanya saja aku ingat bahwa orang itu ada di mimpiku semalam. Aku mengacak-acak rambut. Masa bodoh! Aku segera melirik jam dinding. “Oh, Subuhan.” Gumamku. Aku segera membangunkan Gina dan Moza. Nina berbeda keyakinan dengan kami, biarlah ia tetap tenggelam dalam mimpi indahnya bersama Moses, kakak kelas pujaan hatinya, paling tidak sampai kami selesai sholat subuh.

Advertisements

Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s